MAKASAR - Jauh sebelum manusia mengenal peleburan logam dan menciptakan bilah besi masyarakat purba Nusantara telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam memanfaatkan kekayaan alam sekitar. Perjalanan panjang menuju bentuk belati dan keris yang kita kenal kini tidak muncul secara tiba‑tiba melainkan tumbuh secara bertahap selama puluhan ribu tahun. Setiap tahap perkembangan membawa pengetahuan baru yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu bukti paling mutakhir dan menarik tentang tahap awal ini ditemukan di kawasan karst Maros - Pangkep Sulawesi Selatan berupa dua buah mata pisau yang dibuat dari gigi hiu macan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Antiquity pada tahun 2023 dan diperkirakan berusia sekitar 39.000 hingga 28.000 tahun silam.
Secara fisik benda ini terbentuk mengikuti struktur alami gigi hiu yang memiliki pinggiran bergerigi tajam dan bagian badan yang padat serta kuat. Panjangnya hanya sekitar lima sentimeter namun pengolahan yang dilakukan tidaklah sederhana. Pada bagian pangkalnya dibuat lubang secara sengaja dan teratur. Analisis laboratorium menemukan jejak serat tumbuhan dan selulosa di dalam lubang tersebut yang membuktikan bahwa alat ini dipasang pada gagang dari kayu atau tulang agar lebih nyaman digenggam dan memiliki tenaga kerja yang lebih besar. Sejak masa itu manusia sudah memahami prinsip fungsi dan keseimbangan bentuk yang menjadi dasar bagi pembuatan alat tajam selanjutnya.
Bentuk pinggiran yang bergerigi memberikan kemampuan memotong yang efektif sementara bagian tubuh yang melengkung dan mengerucut ke ujung membentuk pola dasar bilah yang kokoh. Jika diamati lebih lanjut struktur ini menyimpan benih pemikiran yang kelak berkembang. Gerigi alami pada gigi hiu mengajarkan cara mendapatkan ketajaman maksimal pada sisi bilah. Lengkungan halus pada tubuh gigi menjadi cikal bakal pemahaman tentang lekukan yang kemudian berkembang menjadi bentuk luk pada keris di masa mendatang. Prinsip pengeboran pada pangkal untuk penyambungan dengan gagang pun menjadi teknik dasar yang terus digunakan saat pembuatan belati dan bilah logam.
Jejak sisa bahan yang menempel pada permukaannya memberikan gambaran jelas mengenai kegunaannya. Terdapat residu lemak hewani jaringan kolagen serta pati dari tumbuhan yang mengonfirmasi penggunaannya untuk menguliti hasil buruan memotong daging serta mengolah bahan pangan dan tanaman. Ditemukannya lapisan oker berwarna merah pada sebagian permukaannya menunjukkan benda ini tidak hanya berfungsi sebagai alat kerja. Pemberian warna tersebut kemungkinan berkaitan dengan makna simbolis tanda kepemilikan khusus atau bagian dari tradisi dan kepercayaan yang sudah mulai terbentuk. Hal ini melahirkan pemahaman bahwa alat tajam tidak hanya dinilai dari kegunaannya semata melainkan juga memiliki nilai budaya yang menyertainya.
Dalam kerangka kajian peradaban bilah tajam temuan ini menempati posisi sebagai mata rantai paling awal. Ia menjadi bukti bahwa konsep membuat benda yang tajam kuat dan memiliki nilai tambah sudah ada jauh sebelum masuknya teknologi logam. Perkembangannya berlanjut secara bertahap dari gigi dan tulang hewan kemudian berkembang ke pembuatan alat dari batu yang dipahat dan diasah hingga akhirnya manusia menguasai teknik pengecoran perunggu dan penempaan besi. Pengetahuan tentang bentuk keseimbangan dan pemberian makna yang dimulai dari benda sederhana ini menjadi fondasi bagi kelahiran belati yang kemudian berkembang lebih lanjut hingga membentuk keris dengan segala keunikan dan kekhasannya.
Dengan demikian alat dari gigi hiu ini bukan sekadar benda purba yang terpendam. Ia adalah saksi bisu kemampuan adaptasi dan pemikiran manusia awal. Ia menjembatani pemahaman bagaimana bentuk dan fungsi yang ditemukan di alam kemudian dikembangkan terus‑menerus menjadi warisan budaya yang sangat berharga hingga masa kini. Handoko Suman