INFO
BUDAYA

ARCA WISNU ANANTA SAYANA – JEJAK KOSMOLOGI HINDU dalam Seni Jawa Kuno

Representasi Wisnu Tidur di Atas Ular Mengungkap Kedalaman Spiritualitas Nusantara.
ARCA WISNU ANANTA SAYANA – JEJAK KOSMOLOGI HINDU dalam Seni Jawa Kuno
Arca Wisnu Ananta Sayana | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Wisnu tidak selalu hadir dalam citra perkasa dengan senjata dan mahkota. Dalam sebuah arca batu dari Jawa Kuno, ia justru digambarkan terbaring, kepala disangga lengan, tubuhnya beristirahat di atas lilitan ular. Representasi ini dikenal sebagai Wisnu Ananta Sayana, salah satu ikonografi Hindu yang jarang ditemukan di Jawa, tetapi menyimpan pemahaman kosmologi yang dalam.

Dalam ajaran Hindu, posisi tidur Wisnu bukanlah tanda kelemahan atau kelengahan. Ia berada dalam keadaan yoga nidra, tidur kosmis yang menandai fase jeda penciptaan. Saat Wisnu terlelap di atas Ananta atau ular kosmik yang melambangkan keabadian dan waktu tanpa akhir dari alam semesta berada dalam keseimbangan sempurna. Dunia seakan berhenti berdenyut, menunggu siklus baru kehidupan dimulai.

Arca Wisnu Ananta Sayana dari Jawa Kuno menampilkan karakter seni yang tenang dan bersahaja. Dipahat dari batu andesit, material yang lazim digunakan pada masa klasik, sosok Wisnu digambarkan menyamping dengan ekspresi wajah yang damai. Tidak ada gestur berlebihan atau ornamen yang rumit. Lipatan kain dan perhiasan ditampilkan secukupnya, mencerminkan kecenderungan seni Jawa yang menekankan harmoni, bukan kemegahan.

Ular Ananta yang menjadi alas tubuh Wisnu memegang peran penting dalam makna simbolis arca ini. Dalam tradisi Hindu India, Ananta atau Śeṣa adalah simbol keabadian dan penopang kosmos. Namun dalam konteks Jawa, ular juga memiliki makna lokal yang kuat. Ia kerap dikaitkan dengan dunia bawah, kesuburan, dan kekuatan alam. Pertemuan dua makna ini memperlihatkan proses sinkretisme, ketika ajaran Hindu berpadu dengan kosmologi Nusantara.

Petunjuk penting mengenai fungsi arca ini muncul dari keterangan inventaris yang menyebutkan adanya inskripsi beraksara Jawa Kuno. Meski teksnya belum terbaca secara jelas, keberadaan aksara tersebut menunjukkan bahwa arca ini bukan sekadar objek estetis. Ia kemungkinan memiliki fungsi ritual dan ditempatkan di ruang sakral, seperti candi atau pertapaan yang berkaitan dengan pemujaan Wisnu dalam tradisi Waisnawa.

Dari gaya pahatan dan materialnya, arca Wisnu Ananta Sayana ini diperkirakan berasal dari rentang abad ke-9 hingga ke-12 Masehi, masa ketika kebudayaan Hindu-Buddha berkembang pesat di Jawa. Arca dengan tema kosmologis semacam ini umumnya ditemukan di kawasan pedalaman, sering kali dekat aliran sungai besar. Dalam pandangan Hindu, sungai dipahami sebagai perwujudan lautan kosmis, tempat Wisnu bersemayam dalam tidurnya.

Jika dibandingkan dengan temuan serupa di Asia Tenggara, karakter arca Jawa tampak menonjolkan kesederhanaan. Relief Wisnu Ananta Sayana di Angkor Wat, Kamboja, misalnya, ditampilkan dalam skala monumental dengan detail ornamen yang sangat kaya. Seni Khmer menonjolkan kemegahan dan kekuasaan visual. Sebaliknya, seni Jawa Kuno menghadirkan Wisnu dalam keheningan, seolah mengajak penikmatnya untuk merenung, bukan sekadar mengagumi.

Perbedaan ini mencerminkan cara pandang budaya yang berlainan dalam memvisualkan konsep kosmis yang sama. Bagi masyarakat Jawa Kuno, keseimbangan dan ketenangan batin tampaknya menjadi nilai utama. Wisnu tidak ditampilkan sebagai penguasa yang dominan, melainkan sebagai penjaga semesta yang bekerja melalui kesadaran dan keheningan.

Arca Wisnu Ananta Sayana menjadi penanda bahwa spiritualitas Jawa Kuno tidak berhenti pada ritual, tetapi juga meresap ke dalam pemikiran filosofis tentang waktu, alam, dan kehidupan. Di tengah derasnya arus modernitas, arca ini mengingatkan bahwa kebudayaan Nusantara pernah menempatkan harmoni kosmos sebagai pusat keberadaan manusia. Sebuah pesan yang tetap relevan, bahkan berabad-abad setelah Wisnu digambarkan terlelap di atas Ananta. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

ARCA WISNU ANANTA SAYANA – JEJAK KOSMOLOGI HINDU dalam Seni Jawa Kuno

Representasi Wisnu Tidur di Atas Ular Mengungkap Kedalaman Spiritualitas Nusantara.

Super Admin
20 Jan 2026 • 1,170x dibaca
ARCA WISNU ANANTA SAYANA – JEJAK KOSMOLOGI HINDU dalam Seni Jawa Kuno
Arca Wisnu Ananta Sayana | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Wisnu tidak selalu hadir dalam citra perkasa dengan senjata dan mahkota. Dalam sebuah arca batu dari Jawa Kuno, ia justru digambarkan terbaring, kepala disangga lengan, tubuhnya beristirahat di atas lilitan ular. Representasi ini dikenal sebagai Wisnu Ananta Sayana, salah satu ikonografi Hindu yang jarang ditemukan di Jawa, tetapi menyimpan pemahaman kosmologi yang dalam.

Dalam ajaran Hindu, posisi tidur Wisnu bukanlah tanda kelemahan atau kelengahan. Ia berada dalam keadaan yoga nidra, tidur kosmis yang menandai fase jeda penciptaan. Saat Wisnu terlelap di atas Ananta atau ular kosmik yang melambangkan keabadian dan waktu tanpa akhir dari alam semesta berada dalam keseimbangan sempurna. Dunia seakan berhenti berdenyut, menunggu siklus baru kehidupan dimulai.

Arca Wisnu Ananta Sayana dari Jawa Kuno menampilkan karakter seni yang tenang dan bersahaja. Dipahat dari batu andesit, material yang lazim digunakan pada masa klasik, sosok Wisnu digambarkan menyamping dengan ekspresi wajah yang damai. Tidak ada gestur berlebihan atau ornamen yang rumit. Lipatan kain dan perhiasan ditampilkan secukupnya, mencerminkan kecenderungan seni Jawa yang menekankan harmoni, bukan kemegahan.

Ular Ananta yang menjadi alas tubuh Wisnu memegang peran penting dalam makna simbolis arca ini. Dalam tradisi Hindu India, Ananta atau Śeṣa adalah simbol keabadian dan penopang kosmos. Namun dalam konteks Jawa, ular juga memiliki makna lokal yang kuat. Ia kerap dikaitkan dengan dunia bawah, kesuburan, dan kekuatan alam. Pertemuan dua makna ini memperlihatkan proses sinkretisme, ketika ajaran Hindu berpadu dengan kosmologi Nusantara.

Petunjuk penting mengenai fungsi arca ini muncul dari keterangan inventaris yang menyebutkan adanya inskripsi beraksara Jawa Kuno. Meski teksnya belum terbaca secara jelas, keberadaan aksara tersebut menunjukkan bahwa arca ini bukan sekadar objek estetis. Ia kemungkinan memiliki fungsi ritual dan ditempatkan di ruang sakral, seperti candi atau pertapaan yang berkaitan dengan pemujaan Wisnu dalam tradisi Waisnawa.

Dari gaya pahatan dan materialnya, arca Wisnu Ananta Sayana ini diperkirakan berasal dari rentang abad ke-9 hingga ke-12 Masehi, masa ketika kebudayaan Hindu-Buddha berkembang pesat di Jawa. Arca dengan tema kosmologis semacam ini umumnya ditemukan di kawasan pedalaman, sering kali dekat aliran sungai besar. Dalam pandangan Hindu, sungai dipahami sebagai perwujudan lautan kosmis, tempat Wisnu bersemayam dalam tidurnya.

Jika dibandingkan dengan temuan serupa di Asia Tenggara, karakter arca Jawa tampak menonjolkan kesederhanaan. Relief Wisnu Ananta Sayana di Angkor Wat, Kamboja, misalnya, ditampilkan dalam skala monumental dengan detail ornamen yang sangat kaya. Seni Khmer menonjolkan kemegahan dan kekuasaan visual. Sebaliknya, seni Jawa Kuno menghadirkan Wisnu dalam keheningan, seolah mengajak penikmatnya untuk merenung, bukan sekadar mengagumi.

Perbedaan ini mencerminkan cara pandang budaya yang berlainan dalam memvisualkan konsep kosmis yang sama. Bagi masyarakat Jawa Kuno, keseimbangan dan ketenangan batin tampaknya menjadi nilai utama. Wisnu tidak ditampilkan sebagai penguasa yang dominan, melainkan sebagai penjaga semesta yang bekerja melalui kesadaran dan keheningan.

Arca Wisnu Ananta Sayana menjadi penanda bahwa spiritualitas Jawa Kuno tidak berhenti pada ritual, tetapi juga meresap ke dalam pemikiran filosofis tentang waktu, alam, dan kehidupan. Di tengah derasnya arus modernitas, arca ini mengingatkan bahwa kebudayaan Nusantara pernah menempatkan harmoni kosmos sebagai pusat keberadaan manusia. Sebuah pesan yang tetap relevan, bahkan berabad-abad setelah Wisnu digambarkan terlelap di atas Ananta. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri