SURAKARTA - Di tengah denyut aktivitas kawasan Pecinan Solo, berdiri Vihara Tien Kok Sie atau yang lebih dikenal sebagai Poo An Kiong. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah umat Tridharma, tetapi juga representasi arsitektur Tionghoa klasik yang telah beradaptasi dengan konteks lokal Jawa selama lebih dari dua abad. Arsitekturnya menyimpan nilai simbolik, teknis, sekaligus kultural yang menjadikannya penting dalam khazanah arsitektur heritage Indonesia.
Secara tata massa, vihara ini mengikuti prinsip arsitektur tradisional Tionghoa yang menekankan sumbu simetri dan orientasi ke dalam. Pintu gerbang utama menjadi elemen transisi dari ruang publik menuju ruang sakral. Begitu melangkah masuk, pengunjung diarahkan secara visual dan spiritual menuju ruang altar utama. Pola ini mencerminkan filosofi keteraturan kosmos, di mana manusia, alam, dan kekuatan langit berada dalam harmoni.
Elemen paling mencolok dari Vihara Tien Kok Sie adalah bentuk atapnya. Atap pelana bertingkat dengan ujung melengkung ke atas merupakan ciri khas Arsitektur Tionghoa Selatan. Lengkungan tersebut bukan sekadar estetika, tetapi juga simbol penolak bala dan pengundang energi positif ( chi ). Pada puncak dan tepi atap, terpasang ornamen naga dan makhluk mitologis lain yang melambangkan kekuatan, perlindungan, serta keseimbangan.
Struktur bangunan didominasi oleh konstruksi kayu, terutama pada kolom, balok, dan rangka atap. Sistem sambungan kayu tradisional digunakan tanpa banyak elemen logam, mencerminkan kearifan teknik bangunan lama yang lentur dan adaptif terhadap iklim tropis. Material kayu ini juga berkontribusi pada kualitas ruang interior yang hangat dan sakral, sekaligus memungkinkan bangunan bertahan lama dengan perawatan yang tepat.
Warna menjadi bahasa visual penting dalam vihara ini. Merah mendominasi dinding, kolom, dan pintu sebagai simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif. Emas hadir pada detail ukiran dan altar, melambangkan kemuliaan dan kebijaksanaan. Kombinasi warna ini tidak hanya memperkuat identitas religius, tetapi juga menciptakan kesan monumental meski skala bangunan relatif bersahaja.
Interior vihara ditata dengan hirarki ruang yang jelas. Altar utama berada di posisi sentral dan paling sakral, dikelilingi altar pendamping untuk dewa - dewi lain. Pencahayaan alami masuk secara terbatas, dipadukan dengan cahaya lampion dan lilin, menciptakan suasana kontemplatif. Asap dupa yang perlahan naik ke langit-langit menambah dimensi spasial yang bersifat spiritual, mempertegas pengalaman ruang yang tidak hanya visual tetapi juga sensorik.
Menariknya, Vihara Tien Kok Sie juga menunjukkan akulturasi dengan budaya lokal Jawa. Skala bangunan yang tidak berlebihan, adaptasi terhadap iklim tropis lembap, serta keterbukaan vihara terhadap lingkungan sekitar mencerminkan proses dialog budaya yang panjang. Vihara ini tidak terisolasi, melainkan menyatu dengan kehidupan kota dan aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Dalam konteks arsitektur kota Solo, Vihara Tien Kok Sie berperan sebagai penanda kawasan ( landmark ) sekaligus arsip hidup perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di kota solo. Keberadaannya memperkaya wajah kota dengan narasi multikultural dan memperlihatkan bagaimana arsitektur dapat menjadi medium toleransi serta kesinambungan tradisi.
Pada akhirnya, Arsitektur Vihara Tien Kok Sie bukan hanya soal bentuk dan ornamen. Ia adalah manifestasi nilai-nilai spiritual, identitas komunitas, dan kemampuan arsitektur tradisional untuk bertahan serta relevan lintas zaman. Sebuah warisan yang patut dipahami, dirawat, dan terus diceritakan kepada generasi mendatang. Handoko Suman