KLATEN – Dalam pengembangan pariwisata budaya berbasis pengetahuan, pemahaman yang keliru sering kali menyesatkan arah pelestarian dan penyajian informasi. Salah satu kekeliruan terbesar yang masih sering terjadi hingga kini adalah penyebutan kawasan sentra keris sebagai “desa bengkel” atau “pusat industri keris”. Istilah ini harus segera dikoreksi dan diluruskan. Secara sejarah, budaya, dan epistemologi, kawasan-kawasan ini bukanlah kawasan industri atau tempat produksi massal, melainkan Kawasan Warisan Besalen. Ini adalah wilayah geografis di mana jejak pengetahuan keris tumbuh, berkembang, dan diwariskan melalui keberadaan bangunan Besalen sebagai wadah utamanya. Mengubah sudut pandang dari kawasan produksi menjadi kawasan warisan ilmu pengetahuan adalah langkah awal yang mutlak dan benar dalam memetakan potensi wisata budaya keris di Indonesia.
Pemetaan kawasan warisan Besalen di Nusantara sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran ilmu pengetahuan dan pusat-pusat pemerintahan masa lalu. Lokasi keberadaannya tidak dipilih sembarangan, melainkan selalu berdekatan dengan pusat kekuasaan, keraton, atau tempat yang dianggap memiliki energi alam baik. Di tanah Jawa, terdapat beberapa kawasan utama yang memiliki konsentrasi Besalen tertua dan paling otentik, yang masing-masing memiliki karakteristik pengetahuan dan gaya ilmu yang berbeda.
Pertama, kawasan Desa Kamasan, Kecamatan Klaten Tengah. Kawasan ini merupakan pemekaran langsung dari wilayah Keraton Surakarta. Secara sejarah, desa ini khusus dihuni oleh para keturunan Empu dan pemegang ilmu yang bertugas langsung di lingkungan keraton. Di sini, jejak Besalen masih sangat jelas terlihat dalam tata ruang desa. Ciri khas kawasan ini adalah Besalen-nya berukuran sedang, rapi, dan letaknya selalu berada di bagian paling belakang pekarangan rumah, terpisah dari bangunan induk. Hal ini mencerminkan sifat ilmu keraton yang halus, tertutup, dan sangat dijaga kemurniannya. Pengetahuan yang berkembang di kawasan ini adalah aliran ilmu Mataram Baru, yang menekankan pada keseimbangan wujud dan nilai rasa yang tenang. Kawasan ini bernilai tinggi bagi pariwisata karena pengunjung dapat menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan hidup berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat adat yang masih memegang teguh tradisi.
Kedua, kawasan Banyusumurup, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Berbeda dengan Kamasan yang bernuansa keraton, kawasan ini adalah pusat pewarisan ilmu dari aliran kuno seperti Pajajaran dan Mataram Kuno. Secara geografis, kawasan ini berada di dataran tinggi pegunungan selatan. Keunikan pemetaan kawasan ini adalah letak Besalen-nya yang sering kali berada agak jauh dari pemukiman utama, bahkan di lereng-lereng bukit atau sisi luar desa. Hal ini berkaitan dengan karakter pengetahuan aliran kuno yang cenderung kuat, tegas, dan sangat sakral, sehingga membutuhkan tempat yang sunyi dan jauh dari gangguan. Bentuk Besalen di kawasan ini cenderung lebih sederhana namun kokoh, dengan ukuran ruang yang lebih luas. Nilai wisata kawasan ini terletak pada keaslian jejak sejarah kuno dan suasana alam yang masih sangat alami, yang memberikan gambaran nyata bagaimana ilmu pengetahuan dijaga di wilayah pedalaman.
Ketiga, kawasan Pasuruan dan Tulungagung di Jawa Timur. Kawasan ini menjadi saksi penyebaran ilmu dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Ciri khas pemetaan di sini adalah Besalen-nya berkelompok dalam satu lingkungan khusus, membentuk semacam komunitas ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa di masa lalu, pertukaran ilmu dan diskusi antar Empu sangat intens terjadi di wilayah ini. Arsitektur Besalen di Jawa Timur memiliki ciri atap yang lebih tinggi dan dinding yang lebih terbuka, mencerminkan sifat pengetahuan yang dinamis, berani, dan tegas.
Ditinjau dari sisi nilai ruang dan pariwisata, pengelolaan kawasan ini tidak boleh didasarkan pada konsep promosi barang dagangan, melainkan konsep Wisata Jejak Pengetahuan. Pengunjung diajak berjalan menelusuri lokasi, memahami mengapa tempat ini dipilih, bagaimana tata ruangnya, dan apa hubungan antara lingkungan alam dengan ilmu yang dikembangkan di sana. Penyajian informasinya pun harus diubah dan bukan menceritakan berapa banyak keris yang dibuat, melainkan menceritakan siapa Empu besar yang pernah berkarya di sana, apa aliran ilmunya, dan bagaimana Besalen berfungsi sebagai wadah pelestariannya.
Pemetaan kawasan warisan Besalen adalah langkah penting untuk mengembalikan martabat keris sebagai warisan budaya dunia. Kawasan ini bukan kawasan bengkel atau pabrik, melainkan universitas masa lalu, tempat di mana ilmu pengetahuan, seni, dan kearifan lokal dipelajari, diajarkan, dan diwariskan. Menghargai kawasan ini sama artinya dengan menghargai akar sejarah dan sistem pengetahuan bangsa Indonesia yang agung. Handoko Suman