INFO
IKLAN
PARIWISATA

WASTRA WAYANG - Dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Busana tradisional dalam Sendratari Ramayana menjadi bagian penting yang memperkuat pertunjukan sekaligus mengenalkan wastra Jawa kepada wisatawan.
WASTRA WAYANG - Dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan
Sendratari Ramayana | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

YOGYAKARTA — Ketika matahari mulai terbenam di kawasan Candi Prambanan, panggung Sendratari Ramayana perlahan dipenuhi para penari dengan busana yang memancarkan keindahan wastra Jawa. Sebelum dialog dan gerak tari dimulai, penonton lebih dahulu disambut oleh warna, motif, serta bentuk busana yang membedakan setiap tokoh. Kain batik, dodot, selendang, hingga berbagai kelengkapan busana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan. Kehadiran wastra tersebut bukan sekadar pelengkap penampilan, tetapi menjadi unsur visual yang membantu membangun karakter tokoh sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa kepada wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Sendratari Ramayana pertama kali dipentaskan di kawasan Prambanan pada tahun 1961 sebagai pertunjukan seni yang mengangkat kisah Ramayana dengan latar Candi Prambanan. Sejak awal penyelenggaraannya, tata busana menjadi salah satu unsur penting dalam membangun identitas pertunjukan. Setiap tokoh mengenakan busana yang disusun berdasarkan pakem seni pertunjukan Jawa sehingga penonton dapat membedakan karakter protagonis maupun antagonis melalui bentuk pakaian, warna, hiasan kepala, hingga kelengkapan aksesorinya. Busana tersebut menjadi bahasa visual yang memperkuat penyampaian cerita tanpa harus bergantung pada dialog.

Wastra yang digunakan dalam pertunjukan tidak dipilih secara sembarangan. Berbagai jenis kain bermotif batik, dodot, kampuh, selendang, dan kain tradisional lainnya disesuaikan dengan karakter yang diperankan. Rama dan Shinta tampil dengan busana yang mencerminkan keagungan keluarga kerajaan, sedangkan Rahwana mengenakan busana yang menampilkan kesan kuat dan berwibawa. Hanoman memiliki kostum yang dirancang berbeda untuk memperlihatkan tokohnya sebagai kera putih yang lincah dan pemberani. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa wastra berfungsi sebagai media komunikasi visual yang membantu penonton mengenali peran setiap tokoh sejak awal pertunjukan.

Dari sudut pandang pariwisata budaya, keberadaan wastra dalam Sendratari Ramayana memberikan pengalaman yang lebih utuh bagi wisatawan. Penonton tidak hanya menikmati alur cerita yang bersumber dari Kakawin Ramayana, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal ragam busana tradisional Jawa yang masih digunakan dalam seni pertunjukan. Melalui tata busana, wisatawan dapat melihat bagaimana motif kain, bentuk dodot, tata rias, dan aksesorinya berpadu menjadi satu kesatuan artistik yang memperkuat identitas budaya. Nilai inilah yang menjadikan Sendratari Ramayana berbeda dengan pertunjukan panggung pada umumnya.

Keberlanjutan pertunjukan ini juga berperan dalam menjaga penggunaan wastra tradisional di tengah perkembangan industri kreatif. Para perancang busana, penata kostum, hingga perajin kain terus memelihara pengetahuan mengenai bentuk, motif, dan cara mengenakan busana sesuai pakem pertunjukan. Dengan demikian, keberadaan Sendratari Ramayana tidak hanya mendukung sektor pariwisata, tetapi juga menjadi ruang pelestarian berbagai unsur budaya yang berkaitan dengan wastra Jawa. Setiap pementasan menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan busana tradisional kepada masyarakat luas secara langsung.

Sendratari Ramayana Prambanan memperlihatkan bahwa daya tarik wisata budaya tidak hanya dibangun oleh kemegahan Candi Prambanan sebagai warisan dunia, tetapi juga oleh seni pertunjukan yang menghidupkan nilai - nilai budaya melalui gerak tari dan wastra. Di balik setiap adegan, kain - kain tradisional yang dikenakan para penari menjadi bagian penting yang menghubungkan sejarah, seni, dan identitas budaya Jawa. Kehadiran wastra dalam pertunjukan ini menunjukkan bahwa selembar kain dapat berperan sebagai media pelestarian budaya sekaligus memperkaya pengalaman wisata yang terus dinikmati oleh pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
PARIWISATA

WASTRA WAYANG - Dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Busana tradisional dalam Sendratari Ramayana menjadi bagian penting yang memperkuat pertunjukan sekaligus mengenalkan wastra Jawa kepada wisatawan.

Super Admin
21 Jul 2026 • 56x dibaca
WASTRA WAYANG - Dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan
Sendratari Ramayana | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

YOGYAKARTA — Ketika matahari mulai terbenam di kawasan Candi Prambanan, panggung Sendratari Ramayana perlahan dipenuhi para penari dengan busana yang memancarkan keindahan wastra Jawa. Sebelum dialog dan gerak tari dimulai, penonton lebih dahulu disambut oleh warna, motif, serta bentuk busana yang membedakan setiap tokoh. Kain batik, dodot, selendang, hingga berbagai kelengkapan busana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan. Kehadiran wastra tersebut bukan sekadar pelengkap penampilan, tetapi menjadi unsur visual yang membantu membangun karakter tokoh sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa kepada wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Sendratari Ramayana pertama kali dipentaskan di kawasan Prambanan pada tahun 1961 sebagai pertunjukan seni yang mengangkat kisah Ramayana dengan latar Candi Prambanan. Sejak awal penyelenggaraannya, tata busana menjadi salah satu unsur penting dalam membangun identitas pertunjukan. Setiap tokoh mengenakan busana yang disusun berdasarkan pakem seni pertunjukan Jawa sehingga penonton dapat membedakan karakter protagonis maupun antagonis melalui bentuk pakaian, warna, hiasan kepala, hingga kelengkapan aksesorinya. Busana tersebut menjadi bahasa visual yang memperkuat penyampaian cerita tanpa harus bergantung pada dialog.

Wastra yang digunakan dalam pertunjukan tidak dipilih secara sembarangan. Berbagai jenis kain bermotif batik, dodot, kampuh, selendang, dan kain tradisional lainnya disesuaikan dengan karakter yang diperankan. Rama dan Shinta tampil dengan busana yang mencerminkan keagungan keluarga kerajaan, sedangkan Rahwana mengenakan busana yang menampilkan kesan kuat dan berwibawa. Hanoman memiliki kostum yang dirancang berbeda untuk memperlihatkan tokohnya sebagai kera putih yang lincah dan pemberani. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa wastra berfungsi sebagai media komunikasi visual yang membantu penonton mengenali peran setiap tokoh sejak awal pertunjukan.

Dari sudut pandang pariwisata budaya, keberadaan wastra dalam Sendratari Ramayana memberikan pengalaman yang lebih utuh bagi wisatawan. Penonton tidak hanya menikmati alur cerita yang bersumber dari Kakawin Ramayana, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal ragam busana tradisional Jawa yang masih digunakan dalam seni pertunjukan. Melalui tata busana, wisatawan dapat melihat bagaimana motif kain, bentuk dodot, tata rias, dan aksesorinya berpadu menjadi satu kesatuan artistik yang memperkuat identitas budaya. Nilai inilah yang menjadikan Sendratari Ramayana berbeda dengan pertunjukan panggung pada umumnya.

Keberlanjutan pertunjukan ini juga berperan dalam menjaga penggunaan wastra tradisional di tengah perkembangan industri kreatif. Para perancang busana, penata kostum, hingga perajin kain terus memelihara pengetahuan mengenai bentuk, motif, dan cara mengenakan busana sesuai pakem pertunjukan. Dengan demikian, keberadaan Sendratari Ramayana tidak hanya mendukung sektor pariwisata, tetapi juga menjadi ruang pelestarian berbagai unsur budaya yang berkaitan dengan wastra Jawa. Setiap pementasan menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan busana tradisional kepada masyarakat luas secara langsung.

Sendratari Ramayana Prambanan memperlihatkan bahwa daya tarik wisata budaya tidak hanya dibangun oleh kemegahan Candi Prambanan sebagai warisan dunia, tetapi juga oleh seni pertunjukan yang menghidupkan nilai - nilai budaya melalui gerak tari dan wastra. Di balik setiap adegan, kain - kain tradisional yang dikenakan para penari menjadi bagian penting yang menghubungkan sejarah, seni, dan identitas budaya Jawa. Kehadiran wastra dalam pertunjukan ini menunjukkan bahwa selembar kain dapat berperan sebagai media pelestarian budaya sekaligus memperkaya pengalaman wisata yang terus dinikmati oleh pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri