INFO
BUDAYA

AKSARA JAWA KUNA - Menyimpan Makna Dalam Lempengan Tembaga

Ketika Aksara Mencatat Keputusan, Identitas, Wilayah dan Kehidupan Masyarakat pada Masa Pemerintahan Dyah Balitung.
AKSARA JAWA KUNA - Menyimpan Makna Dalam Lempengan Tembaga
Prasasti KUBU - KUBU Tembaga | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

MALANG,JAWA TIMUR — Aksara Jawa Kuna pada Prasasti Kubu - Kubu memperlihatkan kemampuan masyarakat Jawa Kuna menggunakan tulisan sebagai media untuk menyampaikan makna, mencatat keputusan dan menyimpan pengetahuan pada masa pemerintahan Dyah Balitung.

Prasasti Kubu - Kubu bertarikh 827 Saka atau 17 Oktober 905 Masehi. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuna pada lempengan tembaga. Media tersebut terdiri atas enam lempengan yang masih tersimpan dari keseluruhan tujuh lempengan. Setiap lempengan memiliki ruang tulisan pada satu atau kedua sisinya.

Aksara pada prasasti tidak hanya berfungsi sebagai tanda untuk mewakili bunyi bahasa. Aksara membentuk kata dan kalimat yang membawa informasi tertentu. Melalui tulisan, sebuah pesan dapat memiliki bentuk yang dapat dilihat, dibaca dan dipahami kembali setelah waktu berlalu.

Penggunaan aksara Jawa Kuna menunjukkan bahwa tulisan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Bahasa yang digunakan memberikan makna kepada tanda - tanda yang dituliskan, sedangkan aksara memberikan bentuk visual sehingga bahasa dapat direkam pada media yang tahan lama.

Prasasti Kubu - Kubu memuat penetapan daerah Kubu - Kubu sebagai sima. Penetapan tersebut berkaitan dengan anugerah kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Rakai Majawuntan. Keputusan tersebut diberikan setelah keduanya menjalankan perintah raja untuk menyerang dan mengalahkan daerah Bantan.

Makna aksara dalam prasasti terlihat dari kemampuannya merekam sebuah keputusan. Informasi mengenai nama, wilayah, kedudukan dan ketetapan tidak berhenti sebagai pesan yang disampaikan secara lisan. Tulisan memberikan bentuk yang memungkinkan informasi tersebut dipertahankan sebagai bagian dari ingatan masyarakat.

Tujuan penulisan menjadi penting karena isi prasasti berkaitan dengan kehidupan sosial dan pemerintahan. Penetapan wilayah sebagai sima membutuhkan pencatatan agar keputusan tersebut memiliki dasar yang dapat dikenali. Aksara kemudian menjadi bagian dari proses yang menghubungkan penguasa, pejabat dan masyarakat dengan suatu ketetapan.

Tembaga memberikan karakter khusus sebagai media. Lempengan dapat dibuat dalam bentuk yang relatif tipis dan digunakan pada kedua permukaannya. Tulisan ditempatkan pada permukaan logam dan disusun dalam beberapa bagian sehingga membentuk satu kesatuan informasi. Bentuk tersebut memperlihatkan bahwa pemilihan media turut menentukan cara manusia menyimpan dan menyampaikan pengetahuan.

Pada masa Dyah Balitung, aksara telah menjalankan fungsi yang lebih luas daripada komunikasi sederhana. Tulisan dapat digunakan untuk mencatat hubungan antara penguasa dan pejabat, penetapan wilayah serta ketentuan yang berkaitan dengan masyarakat. Aksara menjadi bagian dari tata pemerintahan sekaligus sarana untuk mempertahankan informasi.

Prasasti Kubu - Kubu juga memperlihatkan hubungan antara aksara, bahasa dan benda. Aksara menyusun tanda, bahasa memberikan arti, sedangkan tembaga menjadi media fisik yang membawa tulisan tersebut melintasi waktu. Ketiganya membentuk satu sistem penyimpanan informasi yang dapat dikenali kembali oleh generasi berbeda.

Lebih dari seribu tahun kemudian, tulisan pada lempengan tembaga tersebut masih dapat dibaca dan dipelajari. Keberadaan aksara itu menunjukkan bahwa pesan yang dibuat pada suatu masa dapat melampaui kehidupan manusia yang menuliskannya.

Aksara Jawa Kuna akhirnya bukan hanya peninggalan bentuk tulisan masa lalu. Aksara menjadi bukti tentang cara manusia Nusantara mengubah bahasa menjadi pengetahuan yang dapat disimpan. Melalui lempengan tembaga, keputusan dan makna dari masa Dyah Balitung tetap memiliki jejak hingga sekarang.

Perubahan media terus berlangsung. Batu, tembaga, lontar, kertas dan teknologi digital memiliki bentuk berbeda. Namun kebutuhan manusia tetap sama, yaitu menyimpan informasi agar tidak hilang bersama waktu. Prasasti Kubu - Kubu memperlihatkan bahwa lebih dari seribu tahun lalu, aksara telah menjadi salah satu cara manusia menjaga pengetahuan untuk masa yang akan datang. Handoko Suman  

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

AKSARA JAWA KUNA - Menyimpan Makna Dalam Lempengan Tembaga

Ketika Aksara Mencatat Keputusan, Identitas, Wilayah dan Kehidupan Masyarakat pada Masa Pemerintahan Dyah Balitung.

Super Admin
09 Sep 2026 • 41x dibaca
AKSARA JAWA KUNA - Menyimpan Makna Dalam Lempengan Tembaga
Prasasti KUBU - KUBU Tembaga | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

MALANG,JAWA TIMUR — Aksara Jawa Kuna pada Prasasti Kubu - Kubu memperlihatkan kemampuan masyarakat Jawa Kuna menggunakan tulisan sebagai media untuk menyampaikan makna, mencatat keputusan dan menyimpan pengetahuan pada masa pemerintahan Dyah Balitung.

Prasasti Kubu - Kubu bertarikh 827 Saka atau 17 Oktober 905 Masehi. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuna pada lempengan tembaga. Media tersebut terdiri atas enam lempengan yang masih tersimpan dari keseluruhan tujuh lempengan. Setiap lempengan memiliki ruang tulisan pada satu atau kedua sisinya.

Aksara pada prasasti tidak hanya berfungsi sebagai tanda untuk mewakili bunyi bahasa. Aksara membentuk kata dan kalimat yang membawa informasi tertentu. Melalui tulisan, sebuah pesan dapat memiliki bentuk yang dapat dilihat, dibaca dan dipahami kembali setelah waktu berlalu.

Penggunaan aksara Jawa Kuna menunjukkan bahwa tulisan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Bahasa yang digunakan memberikan makna kepada tanda - tanda yang dituliskan, sedangkan aksara memberikan bentuk visual sehingga bahasa dapat direkam pada media yang tahan lama.

Prasasti Kubu - Kubu memuat penetapan daerah Kubu - Kubu sebagai sima. Penetapan tersebut berkaitan dengan anugerah kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Rakai Majawuntan. Keputusan tersebut diberikan setelah keduanya menjalankan perintah raja untuk menyerang dan mengalahkan daerah Bantan.

Makna aksara dalam prasasti terlihat dari kemampuannya merekam sebuah keputusan. Informasi mengenai nama, wilayah, kedudukan dan ketetapan tidak berhenti sebagai pesan yang disampaikan secara lisan. Tulisan memberikan bentuk yang memungkinkan informasi tersebut dipertahankan sebagai bagian dari ingatan masyarakat.

Tujuan penulisan menjadi penting karena isi prasasti berkaitan dengan kehidupan sosial dan pemerintahan. Penetapan wilayah sebagai sima membutuhkan pencatatan agar keputusan tersebut memiliki dasar yang dapat dikenali. Aksara kemudian menjadi bagian dari proses yang menghubungkan penguasa, pejabat dan masyarakat dengan suatu ketetapan.

Tembaga memberikan karakter khusus sebagai media. Lempengan dapat dibuat dalam bentuk yang relatif tipis dan digunakan pada kedua permukaannya. Tulisan ditempatkan pada permukaan logam dan disusun dalam beberapa bagian sehingga membentuk satu kesatuan informasi. Bentuk tersebut memperlihatkan bahwa pemilihan media turut menentukan cara manusia menyimpan dan menyampaikan pengetahuan.

Pada masa Dyah Balitung, aksara telah menjalankan fungsi yang lebih luas daripada komunikasi sederhana. Tulisan dapat digunakan untuk mencatat hubungan antara penguasa dan pejabat, penetapan wilayah serta ketentuan yang berkaitan dengan masyarakat. Aksara menjadi bagian dari tata pemerintahan sekaligus sarana untuk mempertahankan informasi.

Prasasti Kubu - Kubu juga memperlihatkan hubungan antara aksara, bahasa dan benda. Aksara menyusun tanda, bahasa memberikan arti, sedangkan tembaga menjadi media fisik yang membawa tulisan tersebut melintasi waktu. Ketiganya membentuk satu sistem penyimpanan informasi yang dapat dikenali kembali oleh generasi berbeda.

Lebih dari seribu tahun kemudian, tulisan pada lempengan tembaga tersebut masih dapat dibaca dan dipelajari. Keberadaan aksara itu menunjukkan bahwa pesan yang dibuat pada suatu masa dapat melampaui kehidupan manusia yang menuliskannya.

Aksara Jawa Kuna akhirnya bukan hanya peninggalan bentuk tulisan masa lalu. Aksara menjadi bukti tentang cara manusia Nusantara mengubah bahasa menjadi pengetahuan yang dapat disimpan. Melalui lempengan tembaga, keputusan dan makna dari masa Dyah Balitung tetap memiliki jejak hingga sekarang.

Perubahan media terus berlangsung. Batu, tembaga, lontar, kertas dan teknologi digital memiliki bentuk berbeda. Namun kebutuhan manusia tetap sama, yaitu menyimpan informasi agar tidak hilang bersama waktu. Prasasti Kubu - Kubu memperlihatkan bahwa lebih dari seribu tahun lalu, aksara telah menjadi salah satu cara manusia menjaga pengetahuan untuk masa yang akan datang. Handoko Suman  

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri