MUARA KAMAN — Yupa Muara Kaman menjadi salah satu bukti penting keberadaan tradisi tulis pada masa awal sejarah Nusantara. Temuan prasasti berbentuk tiang batu ini berada di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan tersebut berada di sekitar percabangan Sungai Mahakam dan Sungai Kedangrantau.
Yupa menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Berdasarkan kajian paleografi, bentuk aksaranya menunjukkan perkembangan tradisi tulis yang berkaitan dengan India Selatan dan diperkirakan berasal sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Keberadaan tujuh prasasti Yupa kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam memahami kemunculan Kerajaan Kutai Kuno di kawasan tersebut.
Batu pada Yupa bukan sekadar bahan pembentuk benda. Batu menjadi media untuk menyampaikan dan mempertahankan informasi. Tulisan dipahatkan pada permukaannya sehingga pesan tidak hanya hadir sebagai ucapan yang dapat hilang bersama pembicaranya, tetapi menjadi tanda yang dapat dilihat kembali oleh orang lain dan generasi berikutnya.
Salah satu Yupa yang tercatat dengan nomor registrasi D175 memiliki panjang 145 sentimeter, lebar 35 sentimeter dan tebal 25 sentimeter. Tulisan pada permukaannya mencatat pemberian Raja Mulawarman berupa minyak, lampu dan rangkaian bunga. Prasasti tersebut juga menyebut Yupa sebagai tugu yang berkaitan dengan pemberian yang dilakukan oleh sang raja.
Isi tersebut memperlihatkan fungsi tulisan yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan kata. Tulisan pada batu menghubungkan suatu peristiwa dengan tempat, pelaku dan ingatan yang ingin dipertahankan. Batu memberikan bentuk fisik kepada pesan, sementara aksara memberikan kemampuan kepada pesan tersebut untuk dibaca dan ditafsirkan.
Temuan Yupa juga memperlihatkan hubungan antara tulisan, kekuasaan dan keagamaan. Sumber kebudayaan mencatat bahwa Yupa didirikan oleh para Brahmana sebagai tugu yang berkaitan dengan pemujaan dan pemberian Raja Mulawarman. Beberapa prasasti mencatat hubungan garis keturunan Kudungga, Aswawarman dan Mulawarman, sekaligus menunjukkan posisi Mulawarman sebagai penguasa yang melakukan pemberian dalam kegiatan keagamaan.
Dengan demikian, Yupa tidak hanya menyimpan tulisan. Ia menyimpan informasi mengenai manusia yang hidup pada zamannya, hubungan kekuasaan, kegiatan keagamaan dan bentuk penghormatan terhadap suatu peristiwa.
Pilihan terhadap batu juga memperlihatkan kebutuhan masyarakat masa itu untuk membuat pesan memiliki keberadaan yang lebih permanen. Batu memiliki sifat keras dan tahan terhadap perubahan dibandingkan banyak bahan organik yang mudah rusak. Ketika aksara dipahatkan pada permukaannya, pesan menjadi bagian dari benda tersebut.
Di sinilah batu dapat dipahami sebagai salah satu media awal penyimpanan ingatan dalam peradaban Nusantara. Media tersebut berbeda dengan buku, dokumen atau penyimpanan digital yang dikenal sekarang, tetapi memiliki tujuan yang serupa, yaitu mempertahankan informasi agar dapat diketahui kembali.
Yupa Muara Kaman akhirnya mempertemukan tiga unsur penting. Batu menjadi medianya, aksara menjadi sistem penyampaiannya dan isi prasasti menjadi rekaman peristiwa. Ketiganya membuat sebuah pesan dari masa lalu tetap dapat dibaca pada masa kini.
Lebih dari seribu tahun kemudian, cara manusia menyimpan pengetahuan terus berubah. Media berpindah dari batu menuju berbagai bahan dan teknologi. Namun kebutuhan dasarnya tetap sama, yaitu meninggalkan pengetahuan agar tidak hilang bersama berlalunya waktu.
Yupa Muara Kaman menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut telah hadir dalam perjalanan awal peradaban Nusantara. Batu tidak hanya menjadi benda yang ditemukan kembali oleh arkeologi. Batu pernah menjadi media untuk meninggalkan ingatan. Handoko Suman