INFO
BUDAYA

ARCA ADITYAWARMAN — dalam Struktur Kekuasaan Dharmasraya

Perwujudan Raja dan Legitimasi Kekuasaan di Bhumi Melayu.
ARCA ADITYAWARMAN — dalam Struktur Kekuasaan Dharmasraya
Patung Archa Adityawarman | Foto Ilustrasi : Yufawaha

PADANG - Arca yang berkaitan dengan Maharajadhiraja Sri Adityawarman merupakan salah satu sumber penting untuk memahami struktur kekuasaan di wilayah Dharmasraya pada abad ke-14. Keberadaan arca tersebut tidak dapat dilepaskan dari tradisi keagamaan Buddhis yang berkembang di Sumatra bagian tengah sejak masa Sriwijaya dan terus berlanjut hingga masa Adityawarman. Dalam konteks ini, arca tidak dipahami sebagai karya seni semata, melainkan sebagai sarana yang memuat pernyataan kedudukan raja dalam tatanan keagamaan dan politik.

Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana di Sumatra, seorang penguasa dapat dihubungkan dengan figur keagamaan tertentu melalui bentuk arca dan prasasti yang menyertainya. Hubungan tersebut tidak berarti raja dipandang sebagai dewa secara langsung, melainkan sebagai penguasa yang memperoleh legitimasi melalui praktik keagamaan. Arca menjadi medium yang memperlihatkan hubungan tersebut secara nyata. Melalui bentuk ikonografi, sikap tubuh, dan atribut yang digunakan, arca menunjukkan bahwa kedudukan raja ditempatkan dalam kerangka ajaran keagamaan yang telah dikenal sebelumnya.

Prasasti yang berkaitan dengan arca tersebut memperlihatkan penggunaan gelar kebesaran seperti Maharajadhiraja yang menunjukkan tingkat kedaulatan raja. Penyebutan gelar dalam konteks arca menunjukkan bahwa pendirian arca merupakan bagian dari pernyataan kekuasaan yang disampaikan melalui bentuk keagamaan. Dengan demikian arca berfungsi sebagai penanda resmi keberadaan kekuasaan raja di wilayah Bhumi Melayu yang berpusat di Dharmasraya.

Keberadaan arca juga menunjukkan kesinambungan tradisi politik Melayu yang telah berkembang sejak masa sebelumnya. Pada masa Sriwijaya, unsur keagamaan telah menjadi bagian penting dalam penegasan kedudukan penguasa. Tradisi tersebut berlanjut pada masa Adityawarman dengan penyesuaian terhadap kondisi wilayah pedalaman Sumatra. Pusat kekuasaan yang berada di daerah aliran sungai dan jalur perdagangan darat memerlukan bentuk penegasan kekuasaan yang dapat dikenali secara tetap. Arca dan prasasti memenuhi fungsi tersebut karena memiliki sifat permanen dan dapat ditempatkan pada lokasi yang berkaitan dengan pusat kegiatan pemerintahan.

Dari sudut arkeologi, arca yang berkaitan dengan Adityawarman dapat dipahami sebagai bentuk perwujudan raja dalam media batu. Konsep perwujudan tersebut dikenal luas dalam tradisi Asia Tenggara, di mana seorang penguasa dihubungkan dengan figur keagamaan tertentu melalui bentuk arca. Dalam kasus Adityawarman, hubungan tersebut terlihat melalui penggunaan ikonografi Buddhis yang menunjukkan kedudukan raja sebagai pelindung ajaran keagamaan sekaligus pemegang kekuasaan wilayah. Arca menjadi sarana yang memperlihatkan kedudukan tersebut secara tetap dan dapat dikenali oleh masyarakat pada masanya.

Penempatan arca di wilayah Dharmasraya menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki kedudukan penting sebagai pusat kekuasaan. Lokasi-lokasi tempat ditemukannya arca dan prasasti memperlihatkan keterkaitan dengan jalur sungai dan kawasan permukiman lama. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian arca dilakukan dalam lingkungan yang memiliki arti administratif dan keagamaan sekaligus. Dengan demikian keberadaan arca tidak berdiri terpisah dari struktur wilayah kekuasaan yang berkembang pada masa itu.

Arca yang berkaitan dengan Adityawarman pada akhirnya memperlihatkan bagaimana kekuasaan dinyatakan melalui bentuk yang bersifat tetap dan dapat diwariskan. Melalui arca dan prasasti yang menyertainya, kedudukan raja dinyatakan dalam bentuk yang dapat bertahan melampaui masa pemerintahannya. Dalam kajian arkeologi Sumatra bagian tengah, arca Adityawarman menjadi salah satu penanda penting yang menunjukkan terbentuknya pusat kekuasaan pedalaman yang kemudian berperan dalam perkembangan awal wilayah Minangkabau. Handoko Suman  

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

ARCA ADITYAWARMAN — dalam Struktur Kekuasaan Dharmasraya

Perwujudan Raja dan Legitimasi Kekuasaan di Bhumi Melayu.

Super Admin
26 Feb 2026 • 5x dibaca
ARCA ADITYAWARMAN — dalam Struktur Kekuasaan Dharmasraya
Patung Archa Adityawarman | Foto Ilustrasi : Yufawaha

PADANG - Arca yang berkaitan dengan Maharajadhiraja Sri Adityawarman merupakan salah satu sumber penting untuk memahami struktur kekuasaan di wilayah Dharmasraya pada abad ke-14. Keberadaan arca tersebut tidak dapat dilepaskan dari tradisi keagamaan Buddhis yang berkembang di Sumatra bagian tengah sejak masa Sriwijaya dan terus berlanjut hingga masa Adityawarman. Dalam konteks ini, arca tidak dipahami sebagai karya seni semata, melainkan sebagai sarana yang memuat pernyataan kedudukan raja dalam tatanan keagamaan dan politik.

Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana di Sumatra, seorang penguasa dapat dihubungkan dengan figur keagamaan tertentu melalui bentuk arca dan prasasti yang menyertainya. Hubungan tersebut tidak berarti raja dipandang sebagai dewa secara langsung, melainkan sebagai penguasa yang memperoleh legitimasi melalui praktik keagamaan. Arca menjadi medium yang memperlihatkan hubungan tersebut secara nyata. Melalui bentuk ikonografi, sikap tubuh, dan atribut yang digunakan, arca menunjukkan bahwa kedudukan raja ditempatkan dalam kerangka ajaran keagamaan yang telah dikenal sebelumnya.

Prasasti yang berkaitan dengan arca tersebut memperlihatkan penggunaan gelar kebesaran seperti Maharajadhiraja yang menunjukkan tingkat kedaulatan raja. Penyebutan gelar dalam konteks arca menunjukkan bahwa pendirian arca merupakan bagian dari pernyataan kekuasaan yang disampaikan melalui bentuk keagamaan. Dengan demikian arca berfungsi sebagai penanda resmi keberadaan kekuasaan raja di wilayah Bhumi Melayu yang berpusat di Dharmasraya.

Keberadaan arca juga menunjukkan kesinambungan tradisi politik Melayu yang telah berkembang sejak masa sebelumnya. Pada masa Sriwijaya, unsur keagamaan telah menjadi bagian penting dalam penegasan kedudukan penguasa. Tradisi tersebut berlanjut pada masa Adityawarman dengan penyesuaian terhadap kondisi wilayah pedalaman Sumatra. Pusat kekuasaan yang berada di daerah aliran sungai dan jalur perdagangan darat memerlukan bentuk penegasan kekuasaan yang dapat dikenali secara tetap. Arca dan prasasti memenuhi fungsi tersebut karena memiliki sifat permanen dan dapat ditempatkan pada lokasi yang berkaitan dengan pusat kegiatan pemerintahan.

Dari sudut arkeologi, arca yang berkaitan dengan Adityawarman dapat dipahami sebagai bentuk perwujudan raja dalam media batu. Konsep perwujudan tersebut dikenal luas dalam tradisi Asia Tenggara, di mana seorang penguasa dihubungkan dengan figur keagamaan tertentu melalui bentuk arca. Dalam kasus Adityawarman, hubungan tersebut terlihat melalui penggunaan ikonografi Buddhis yang menunjukkan kedudukan raja sebagai pelindung ajaran keagamaan sekaligus pemegang kekuasaan wilayah. Arca menjadi sarana yang memperlihatkan kedudukan tersebut secara tetap dan dapat dikenali oleh masyarakat pada masanya.

Penempatan arca di wilayah Dharmasraya menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki kedudukan penting sebagai pusat kekuasaan. Lokasi-lokasi tempat ditemukannya arca dan prasasti memperlihatkan keterkaitan dengan jalur sungai dan kawasan permukiman lama. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian arca dilakukan dalam lingkungan yang memiliki arti administratif dan keagamaan sekaligus. Dengan demikian keberadaan arca tidak berdiri terpisah dari struktur wilayah kekuasaan yang berkembang pada masa itu.

Arca yang berkaitan dengan Adityawarman pada akhirnya memperlihatkan bagaimana kekuasaan dinyatakan melalui bentuk yang bersifat tetap dan dapat diwariskan. Melalui arca dan prasasti yang menyertainya, kedudukan raja dinyatakan dalam bentuk yang dapat bertahan melampaui masa pemerintahannya. Dalam kajian arkeologi Sumatra bagian tengah, arca Adityawarman menjadi salah satu penanda penting yang menunjukkan terbentuknya pusat kekuasaan pedalaman yang kemudian berperan dalam perkembangan awal wilayah Minangkabau. Handoko Suman  

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri