INFO
BUDAYA

ARCHA AMOGHAPASA - Simbol Spiritual dan Kekuasaan di Dharmasraya

Menunjukkan peran Archa Amoghapasa sebagai simbol spiritual dan politik.
ARCHA AMOGHAPASA - Simbol Spiritual dan Kekuasaan di Dharmasraya
ARCHA AMOGHAPASA | Foto : Yufawaha

PADANG - Di tengah kekayaan warisan budaya Nusantara, Archa Amoghapasa menonjol sebagai artefak yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan politik. Arca ini menampilkan Bodhisattva Lokeswara, sosok yang melambangkan belas kasih, perlindungan, dan kesejahteraan rakyat, menjadikannya lebih dari sekadar benda seni. Arca ini juga menjadi media komunikasi simbolis yang menghubungkan penguasa dengan masyarakatnya di Dharmasraya.

Setiap elemen pada arca menunjukkan posisi duduk, ekspresi wajah, dan atribut yang dipegang selalu memancarkan pesan moral, spiritual, dan sosial-politik. Bodhisattva Amoghapasa duduk bersila dengan tangan memegang atribut suci, menandakan ketenangan, keseimbangan, dan penyebaran dharma. Posisi dan gestur ini merefleksikan hubungan ideal antara penguasa dan rakyat, sekaligus menjadi simbol legitimasi dan otoritas penguasa lokal.

Arca ini awalnya diperkenalkan melalui hadiah diplomatik dari Singasari, namun fungsinya berkembang menjadi simbol politik dan identitas penguasa lokal. Lekuk tubuh, ekspresi wajah, dan prasasti yang menyertai arca menunjukkan bagaimana benda budaya dapat menyampaikan pesan moral dan sosial yang kompleks. Hal ini menegaskan bahwa artefak religius di Nusantara memiliki fungsi multipurpose, tidak hanya estetika tetapi juga sebagai media legitimasi dan simbol identitas.

Amoghapasa dalam tradisi Buddhis Mahayana digambarkan sebagai penyelamat yang tak pernah gagal, simbol kasih sayang universal. Arca ini memperlihatkan bagaimana konsep spiritual dapat dijadikan alat komunikasi nilai-nilai etis dan kepemimpinan. Arca bukan hanya sebagai benda masa lalu, tetapi juga dokumen budaya yang hidup, menjembatani dimensi spiritual dan sosial-politik di masyarakat Dharmasraya.

Selain itu, prasasti yang terdapat pada arca menambahkan dimensi naratif yang memperkaya maknanya. Teks pada alas dan badan arca menegaskan tujuan penguasa dan pesan yang ingin disampaikan: kesejahteraan rakyat, perlindungan, dan legitimasi penguasa. Dengan demikian, arca berfungsi sebagai simbol yang mengikat sejarah, spiritualitas, dan kekuasaan dalam satu objek budaya.

Archa Amoghapasa menunjukkan bahwa warisan budaya dapat mempertahankan relevansi lintas abad. Ia memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Dharmasraya memandang hubungan antara agama, penguasa, dan rakyat. Benda ini menjadi jembatan reflektif, menyambungkan masa lalu dengan penelitian dan pemahaman kontemporer mengenai nilai-nilai sosial dan politik.

Dengan keunikan ini, Archa Amoghapasa tetap relevan bagi publik maupun peneliti. Ia tidak hanya mengajarkan tentang estetika atau religiusitas, tetapi juga tentang strategi komunikasi simbolis dan legitimasi penguasa pada masa lalu. Arca ini menjadi contoh bagaimana satu benda budaya dapat memuat lapisan  yang kompleks, sekaligus memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat, agama, dan kekuasaan di Dharmasraya. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

ARCHA AMOGHAPASA - Simbol Spiritual dan Kekuasaan di Dharmasraya

Menunjukkan peran Archa Amoghapasa sebagai simbol spiritual dan politik.

Super Admin
23 Feb 2026 • 18x dibaca
ARCHA AMOGHAPASA - Simbol Spiritual dan Kekuasaan di Dharmasraya
ARCHA AMOGHAPASA | Foto : Yufawaha

PADANG - Di tengah kekayaan warisan budaya Nusantara, Archa Amoghapasa menonjol sebagai artefak yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan politik. Arca ini menampilkan Bodhisattva Lokeswara, sosok yang melambangkan belas kasih, perlindungan, dan kesejahteraan rakyat, menjadikannya lebih dari sekadar benda seni. Arca ini juga menjadi media komunikasi simbolis yang menghubungkan penguasa dengan masyarakatnya di Dharmasraya.

Setiap elemen pada arca menunjukkan posisi duduk, ekspresi wajah, dan atribut yang dipegang selalu memancarkan pesan moral, spiritual, dan sosial-politik. Bodhisattva Amoghapasa duduk bersila dengan tangan memegang atribut suci, menandakan ketenangan, keseimbangan, dan penyebaran dharma. Posisi dan gestur ini merefleksikan hubungan ideal antara penguasa dan rakyat, sekaligus menjadi simbol legitimasi dan otoritas penguasa lokal.

Arca ini awalnya diperkenalkan melalui hadiah diplomatik dari Singasari, namun fungsinya berkembang menjadi simbol politik dan identitas penguasa lokal. Lekuk tubuh, ekspresi wajah, dan prasasti yang menyertai arca menunjukkan bagaimana benda budaya dapat menyampaikan pesan moral dan sosial yang kompleks. Hal ini menegaskan bahwa artefak religius di Nusantara memiliki fungsi multipurpose, tidak hanya estetika tetapi juga sebagai media legitimasi dan simbol identitas.

Amoghapasa dalam tradisi Buddhis Mahayana digambarkan sebagai penyelamat yang tak pernah gagal, simbol kasih sayang universal. Arca ini memperlihatkan bagaimana konsep spiritual dapat dijadikan alat komunikasi nilai-nilai etis dan kepemimpinan. Arca bukan hanya sebagai benda masa lalu, tetapi juga dokumen budaya yang hidup, menjembatani dimensi spiritual dan sosial-politik di masyarakat Dharmasraya.

Selain itu, prasasti yang terdapat pada arca menambahkan dimensi naratif yang memperkaya maknanya. Teks pada alas dan badan arca menegaskan tujuan penguasa dan pesan yang ingin disampaikan: kesejahteraan rakyat, perlindungan, dan legitimasi penguasa. Dengan demikian, arca berfungsi sebagai simbol yang mengikat sejarah, spiritualitas, dan kekuasaan dalam satu objek budaya.

Archa Amoghapasa menunjukkan bahwa warisan budaya dapat mempertahankan relevansi lintas abad. Ia memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Dharmasraya memandang hubungan antara agama, penguasa, dan rakyat. Benda ini menjadi jembatan reflektif, menyambungkan masa lalu dengan penelitian dan pemahaman kontemporer mengenai nilai-nilai sosial dan politik.

Dengan keunikan ini, Archa Amoghapasa tetap relevan bagi publik maupun peneliti. Ia tidak hanya mengajarkan tentang estetika atau religiusitas, tetapi juga tentang strategi komunikasi simbolis dan legitimasi penguasa pada masa lalu. Arca ini menjadi contoh bagaimana satu benda budaya dapat memuat lapisan  yang kompleks, sekaligus memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat, agama, dan kekuasaan di Dharmasraya. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri