INFO
ARSITEKTUR

PURA PENATARAN PANDE PELIATAN

Arsitektur sebagai cermin identitas kelompok pengolah logam.
PURA PENATARAN PANDE PELIATAN
Pura Penataran Pande Peliatan | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

DENPASAR - Terletak di desa Peliatan wilayah Ubud Gianyar kompleks Pura Penataran Pande Peliatan berdiri sebagai pusat pemujaan sekaligus monumen arsitektur dengan ciri khas kelompok pengolah logam. Tata ruang tersusun rapi namun memiliki penanda yang membedakannya dari pura umum lainnya di Bali.

Secara umum tata letak mengikuti pola khas Bali yaitu ruang luar ruang tengah dan ruang dalam yang paling suci. Namun unsur spesifik tampak menonjol. Penggunaan warna merah pada pelinggih dan gerbang mudah dikenali. Hal ini selaras hubungan erat klan Pande dengan unsur api dan pemujaan kepada Dewa Brahma. Warna ini bukan sekadar hiasan melainkan bagian dari bahasa bentuk yang menyampaikan kedudukan sosial dan spiritual kelompok tersebut.

Bentuk bangunan utama maupun pelinggih disusun dengan proporsi terukur. Bahan memadukan batu bata merah kayu dan bahan alami lain tahan lama. Ukiran tidak berlebihan namun tegas menyampaikan pesan susunan jagat. Posisi bangunan utama cenderung mengarah selatan sesuai kaidah orientasi tradisi Perapen. Detail sambungan dan konstruksi atap memperlihatkan keahlian menyusun struktur tanpa bahan pengikat modern namun tetap kokoh menahan beban dan perubahan cuaca.

Keberadaan bangunan memperkuat pemahaman bahwa profesi dan kepercayaan terjalin erat di Nusantara. Arsitekturnya tidak hanya menjawab kebutuhan ruang ibadah tetapi menjadi penanda kelompok yang memiliki keahlian khusus mengolah logam. Hingga kini bangunan berfungsi penuh dan menjadi rujukan tata ruang bagi kelompok sekerabat di berbagai wilayah Bali. Keteraturan tata ruang di sini juga menjadi contoh bagaimana keteraturan sosial tercermin dalam bentuk fisik lingkungan binaan.

Peninggalan ini mengajak melihat kembali bahwa setiap bangunan adat menyimpan kisah tentang siapa yang membangunnya dan nilai apa yang dijaga. Di sini bentuk dan fungsi bertemu dengan sejarah panjang penguasaan unsur alam yang diubah menjadi karya berguna dan bermakna. Handoko Suman  

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
ARSITEKTUR

PURA PENATARAN PANDE PELIATAN

Arsitektur sebagai cermin identitas kelompok pengolah logam.

Super Admin
12 Jun 2026 • 31x dibaca
PURA PENATARAN PANDE PELIATAN
Pura Penataran Pande Peliatan | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

DENPASAR - Terletak di desa Peliatan wilayah Ubud Gianyar kompleks Pura Penataran Pande Peliatan berdiri sebagai pusat pemujaan sekaligus monumen arsitektur dengan ciri khas kelompok pengolah logam. Tata ruang tersusun rapi namun memiliki penanda yang membedakannya dari pura umum lainnya di Bali.

Secara umum tata letak mengikuti pola khas Bali yaitu ruang luar ruang tengah dan ruang dalam yang paling suci. Namun unsur spesifik tampak menonjol. Penggunaan warna merah pada pelinggih dan gerbang mudah dikenali. Hal ini selaras hubungan erat klan Pande dengan unsur api dan pemujaan kepada Dewa Brahma. Warna ini bukan sekadar hiasan melainkan bagian dari bahasa bentuk yang menyampaikan kedudukan sosial dan spiritual kelompok tersebut.

Bentuk bangunan utama maupun pelinggih disusun dengan proporsi terukur. Bahan memadukan batu bata merah kayu dan bahan alami lain tahan lama. Ukiran tidak berlebihan namun tegas menyampaikan pesan susunan jagat. Posisi bangunan utama cenderung mengarah selatan sesuai kaidah orientasi tradisi Perapen. Detail sambungan dan konstruksi atap memperlihatkan keahlian menyusun struktur tanpa bahan pengikat modern namun tetap kokoh menahan beban dan perubahan cuaca.

Keberadaan bangunan memperkuat pemahaman bahwa profesi dan kepercayaan terjalin erat di Nusantara. Arsitekturnya tidak hanya menjawab kebutuhan ruang ibadah tetapi menjadi penanda kelompok yang memiliki keahlian khusus mengolah logam. Hingga kini bangunan berfungsi penuh dan menjadi rujukan tata ruang bagi kelompok sekerabat di berbagai wilayah Bali. Keteraturan tata ruang di sini juga menjadi contoh bagaimana keteraturan sosial tercermin dalam bentuk fisik lingkungan binaan.

Peninggalan ini mengajak melihat kembali bahwa setiap bangunan adat menyimpan kisah tentang siapa yang membangunnya dan nilai apa yang dijaga. Di sini bentuk dan fungsi bertemu dengan sejarah panjang penguasaan unsur alam yang diubah menjadi karya berguna dan bermakna. Handoko Suman  

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri