YOGYAKARTA – Dalam kajian arsitektur dan budaya Nusantara, terdapat satu kesalahan umum yang sering terjadi dalam penulisan masa kini, yaitu menyamakan tempat kerja pembuatan keris dengan istilah “bengkel”. Hal ini perlu diluruskan secara mendasar karena secara sejarah, bahasa, dan budaya Jawa, istilah bengkel tidak pernah dikenal dan tidak pernah dipakai. Istilah tersebut baru muncul belakangan, bermakna tempat kerja teknis atau produksi, dan sama sekali tidak menggambarkan hakikat tempat di mana keris diciptakan. Nama asli, baku, dan benar untuk tempat di mana Empu menempuh ilmunya, menempa, dan mewujudkan karya pusaka adalah BESALEN. Besalen adalah bangunan sakral, wadah ilmu pengetahuan, dan ruang ritual yang memiliki bentuk, struktur, dan makna filosofis yang sangat mendalam, jauh melampaui sekadar makna ruang kerja biasa.
Secara etimologi, kata Besalen berasal dari akar kata Sala atau Selah yang berarti tempat yang ditetapkan, tempat yang memiliki aturan, atau tempat yang berfungsi khusus. Di lingkungan keraton Jawa, Besalen memiliki kedudukan setingkat dengan bangunan penting lainnya seperti Pendopo atau Paseban, namun dengan fungsi yang sangat spesifik dan tertutup. Berbeda dengan bengkel yang konotasinya terbuka, ramai, dan fungsional semata, Besalen dirancang sebagai bangunan yang tertutup, tenang, dan menjaga kerahasiaan ilmu. Dari sisi arsitektur fisik, Besalen memiliki ciri khas lantai kerja tungku pembakaran dengan ketinggian dari lantai berkisar antara 60 hingga 90 sentimeter dari permukaan tanah. Ketinggian ini bukan sekadar untuk menghindari kelembapan, melainkan memiliki makna filosofis sebagai pemisahan antara dunia bawah (tanah/benda mentah) dan dunia atas (tempat pengolahan ilmu dan penyempurnaan wujud). Denah bangunannya selalu berbentuk persegi empat sempurna, yang melambangkan keseimbangan dan keutuhan alam semesta.
Struktur dan pembagian ruang di dalam Besalen disusun berdasarkan prinsip kosmologi Jawa dan epistemologi pengetahuan. Ruang ini tidak dibagi berdasarkan fungsi kerja seperti penerimaan bahan atau pengiriman barang, melainkan dibagi berdasarkan tingkatan kesakralan dan alur pengetahuan. Ada tiga zona utama yang tidak boleh berubah urutan maupun letaknya:
Pertama, Zona Utama atau Zona Ageng, terletak di sudut arah Barat Laut, arah yang dianggap paling suci dan menjadi pusat energi. Di zona inilah letak tungku pembakaran atau Geni berada, yang dinding di belakangnya dibuat kokoh dan tertutup rapat. Zona ini adalah inti dari Besalen, tempat di mana materi alam dipertemukan dengan ilmu pengetahuan.
Kedua, Zona Madya atau Zona Tengah, tempat Empu dan para pencipta/pembantu ilmunya melakukan proses pembentukan. Di sini terdapat landasan tempa atau Andhe. Posisi Andhe dan Geni selalu diletakkan berhadapan atau bersampingan dengan aturan arah tertentu, tidak boleh sembarangan. Dinding di zona tengah sengaja dibuat tidak rapat atau memiliki celah-celah kecil. Secara arsitektur, celah ini berfungsi sebagai ventilasi, namun secara makna, celah ini adalah jalan keluar masuknya napas alam dan pengetahuan semesta.
Ketiga, Zona Lepas atau Zona Samping, biasanya di sisi Timur atau Tenggara, berfungsi sebagai tempat istirahat dan penyimpanan bahan baku mentah sebelum diolah. Bahan besi, baja, atau unsur pelengkap disimpan di sini, menunggu giliran masuk ke zona utama untuk diolah menjadi karya bernilai budaya.
Hal yang paling mendasar dan menjadi pembeda utama dengan konsep bengkel adalah aturan orientasi dan makna keberadaan bangunan ini. Sebuah Besalen yang benar secara tradisi wajib menghadap ke arah Barat atau Barat Laut. Arah ini dipilih bukan karena faktor angin atau pencahayaan semata, melainkan berdasarkan pemahaman epistemologis bahwa arah Barat adalah arah pemadatan, arah pengendapan ilmu, dan arah di mana wujud disempurnakan. Jika ditemukan tempat pembuatan keris yang menghadap ke arah lain, maka secara kajian budaya dan sejarah, bangunan tersebut tidak memenuhi syarat sebagai Besalen yang utuh dan benar.
Keberadaan Besalen membuktikan bahwa penciptaan keris bukanlah aktivitas teknis produksi biasa. Arsitekturnya menunjukkan bahwa penciptaan keris adalah proses kebudayaan yang menyatukan ilmu bangunan, ilmu alam, dan ilmu pengetahuan manusia. Besalen adalah bukti nyata bahwa di masa lalu, wadah tempat ilmu dikerjakan diperlakukan sama pentingnya dengan ilmu itu sendiri. Mempelajari bentuk dan makna Besalen sama artinya dengan memahami betapa tingginya penghormatan nenek moyang kita terhadap pengetahuan dan karya budaya. Handoko Suman