WONOSOBO - Di dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, Jawa Tengah, pada saat diselimuti kabut tipis dan hawa dingin, berdirilah Candi Arjuna, sebuah kompleks candi kecil yang justru menyimpan kisah besar tentang awal peradaban spiritual di Jawa. Di sinilah, di tanah yang dahulu disebut Di Hyang menjadi tempat para dewa dan manusia Jawa kuno menandai hubungannya dengan alam, langit, dan kekuatan ilahi.
Memasuki kawasan Candi Arjuna seperti melangkah ke ruang waktu. Hamparan rumput luas menjadi panggung alami bagi lima bangunan batu yang berdiri berjajar, Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Tidak ada kesan megah seperti Prambanan, tidak pula kemegahan Borobudur. Yang terasa justru keheningan, kesederhanaan, dan suasana purba yang intim, seolah candi-candi ini sengaja dibangun bukan untuk memukau, melainkan untuk meresap.
Candi Arjuna sebagai pusat kompleks berdiri menghadap barat. Tubuhnya kecil, nyaris seperti rumah batu, dengan atap bertingkat yang masih polos. Relung-relung di dindingnya menjadi tempat arca dewa, meski kini sebagian besar sudah kosong. Justru kekosongan inilah yang menarik dan seakan memberi ruang bagi imajinasi tentang ritual-ritual sunyi yang pernah berlangsung di sini lebih dari 1300 tahun lalu.
Bergerak ke sampingnya, Candi Semar tampil berbeda. Bentuknya lebih memanjang dan rendah, menyerupai bangunan pendukung. Dalam tafsir arsitektur, Semar diduga bukan candi pemujaan utama, melainkan ruang persiapan ritual dan tempat para pendeta atau resi mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang suci. Di sini, batas antara sakral dan profan terasa nyata sementara Semar menjadi ambang, Arjuna menjadi inti.
Di belakang Arjuna berdiri Candi Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra, membentuk garis imajiner yang mempertegas komposisi ruang sakral. Ketiganya seakan menjadi penjaga spiritual kompleks ini. Nama-nama tokoh Mahabharata yang disematkan pada candi-candi tersebut memang bukan nama asli dari masa kuno, melainkan hasil penamaan arkeolog Belanda abad ke-19. Namun justru di situlah menariknya sebagai mitologi India bertemu dengan interpretasi Jawa modern, menciptakan lapisan makna lintas zaman.
Yang membuat kawasan Candi Arjuna begitu istimewa bukan hanya bangunannya, tetapi lanskapnya. Dieng berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Kabut sering turun perlahan, menyelimuti candi seperti tirai alam. Ketika matahari terbit, sinarnya memantul di batu andesit yang basah oleh embun, menciptakan siluet candi yang nyaris metafisik. Di momen inilah, Dieng benar-benar terasa sebagai tanah para dewa.
Secara historis, kompleks ini diperkirakan dibangun pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, menjadikannya salah satu candi Hindu tertua di Indonesia. Ia lahir jauh sebelum arsitektur candi mencapai puncak kemegahannya. Karena itu, bentuk Candi Arjuna sangat sederhana dan nyaris seperti “candi purba dalam tahap embrio”. Namun justru kesederhanaan ini penting dimana ia menjadi cetak biru awal bagi perkembangan arsitektur candi di Nusantara.
Kawasan ini sempat lama terkubur rawa dan endapan lumpur vulkanik. Baru pada abad ke-19 dilakukan pengeringan dan pemugaran besar-besaran. Sejak saat itu, Candi Arjuna tidak lagi sekadar situs arkeologi, tetapi menjadi ruang hidup baru sebagai ruang wisata, ruang edukasi, sekaligus ruang ritual budaya.
Hari ini, wisatawan datang tidak hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk merasakan suasana. Anak-anak berlari di antara candi, fotografer menunggu kabut turun, peneliti mengukur batu, dan masyarakat lokal tetap memandang kawasan ini sebagai ruang yang memiliki aura sakral dan terutama saat ritual adat seperti ruwatan rambut gimbal.
Kawasan Candi Arjuna pada akhirnya bukan sekadar kumpulan bangunan tua. Ia adalah lanskap budaya yang hidup. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang manusia yang mencari makna di ketinggian, tentang batu yang merekam doa, tentang alam yang menjadi bagian dari arsitektur spiritual. Di Dieng, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan lewat melalui dingin udara, sunyi kabut, dan keheningan candi yang tetap berdiri, setia menjaga jejak awal peradaban Jawa. Handoko Suman