INFO
BUDAYA

KAKAWIN SUTASOMA - Warisan Sastra Majapahit dan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika

Menelusuri keindahan kakawin Jawa Kuno melalui struktur bait, simbol sastra, dan gagasan harmoni.
KAKAWIN SUTASOMA -  Warisan Sastra Majapahit dan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika
Naskah Lontar Kakawin Sutasoma | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Di antara warisan sastra klasik Nusantara, sedikit karya yang pengaruhnya melampaui zamannya seperti Kakawin Sutasoma. Karya puisi epik ini ditulis pada abad ke-14 oleh pujangga Majapahit Mpu Tantular, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Dari karya sastra inilah lahir ungkapan terkenal Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kalimat yang kemudian menempuh perjalanan panjang hingga menjadi semboyan negara Indonesia.

Dalam tradisi Jawa Kuno, kakawin bukan sekadar cerita yang ditulis dalam bentuk puisi. Ia merupakan bentuk sastra yang sangat disiplin dalam struktur bahasa dan irama. Setiap bait disusun mengikuti pola metrum tertentu yang berasal dari tradisi puisi Sanskerta. Bagi seorang pujangga istana, kemampuan menulis kakawin menunjukkan penguasaan tinggi atas bahasa Kawi, simbol sastra, serta kemampuan merangkai makna dalam struktur bunyi yang teratur.

Cerita Kakawin Sutasoma berpusat pada perjalanan seorang pangeran yang meninggalkan istana untuk mencari kebenaran hidup. Tokoh Sutasoma digambarkan sebagai figur yang penuh welas asih. Dalam berbagai peristiwa yang ia hadapi juga termasuk pertemuannya dengan raksasa pemakan manusia bernama Porusada, dan Sutasoma tidak menaklukkan musuh dengan kekuatan, melainkan melalui kebijaksanaan yang mengubah hati lawannya. Kisah ini memperlihatkan bahwa konflik dalam kakawin sering diselesaikan melalui transformasi moral, bukan kemenangan fisik.

Salah satu bagian paling terkenal dari Kakawin Sutasoma terdapat pada bait yang kemudian melahirkan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam teks Jawa Kuno, bait tersebut berbunyi :

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa 

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Jika dibaca secara sastra, bait ini menunjukkan kepiawaian penyair dalam merangkai gagasan melalui pengulangan bunyi dan permainan makna. Kata bhinnêka yang berarti “berbeda” muncul beberapa kali dalam susunan kalimat, namun selalu diikuti oleh penegasan tentang kesatuan. Pola ini menciptakan irama yang sekaligus menegaskan pesan utama bait tersebut yaitu perbedaan bukanlah pertentangan, melainkan bagian dari kesatuan yang lebih luas.

Teknik pengulangan seperti ini merupakan salah satu ciri khas kakawin Jawa Kuno. Penyair tidak sekadar menyampaikan pesan secara langsung, tetapi membangun makna melalui ritme kata. Dalam pembacaan tradisional, bait kakawin biasanya dilantunkan sehingga keindahan bunyinya terasa sama pentingnya dengan isi maknanya. Dengan cara ini, sastra tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar sebagai pengalaman estetika.

Selain permainan bunyi, Kakawin Sutasoma juga memperlihatkan kepadatan simbol yang khas dalam sastra Jawa Kuno. Tokoh Sutasoma, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai pahlawan cerita, tetapi juga melambangkan kebijaksanaan yang mampu meredakan kekacauan. Musuh yang dihadapinya adalah raksasa, raja lalim, atau makhluk buas yang sering kali menggambarkan sisi gelap dalam diri manusia. Ketika konflik berakhir dengan perubahan hati, cerita tersebut menyampaikan pesan moral tentang kemungkinan transformasi dalam kehidupan.

Dalam sejarah sastra Nusantara, Kakawin Sutasoma sering disejajarkan dengan karya besar lain seperti Nagarakretagama karya Mpu Prapanca. Jika Nagarakretagama dikenal sebagai deskripsi puitis tentang kekuasaan dan wilayah Majapahit, maka Sutasoma memperlihatkan sisi etika dan spiritual dari kebudayaan yang sama. Kedua karya ini menunjukkan bahwa sastra istana pada masa itu tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga merumuskan nilai-nilai yang dianggap penting bagi masyarakat.

Lebih dari enam abad setelah ditulis, Kakawin Sutasoma tetap dibaca sebagai salah satu mahakarya sastra Jawa Kuno. Di dalam bait-baitnya tersimpan kehalusan bahasa, kedalaman simbol, serta gagasan tentang harmoni yang melampaui zamannya. Dari lembar-lembar puisi inilah lahir sebuah kalimat yang terus diingat hingga hari ini Bhinneka Tunggal Ika, sebuah pesan lama dari sastra Majapahit yang masih menemukan maknanya dalam kehidupan Indonesia modern. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

KAKAWIN SUTASOMA - Warisan Sastra Majapahit dan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika

Menelusuri keindahan kakawin Jawa Kuno melalui struktur bait, simbol sastra, dan gagasan harmoni.

Super Admin
12 Mar 2026 • 87x dibaca
KAKAWIN SUTASOMA -  Warisan Sastra Majapahit dan Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika
Naskah Lontar Kakawin Sutasoma | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Di antara warisan sastra klasik Nusantara, sedikit karya yang pengaruhnya melampaui zamannya seperti Kakawin Sutasoma. Karya puisi epik ini ditulis pada abad ke-14 oleh pujangga Majapahit Mpu Tantular, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Dari karya sastra inilah lahir ungkapan terkenal Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kalimat yang kemudian menempuh perjalanan panjang hingga menjadi semboyan negara Indonesia.

Dalam tradisi Jawa Kuno, kakawin bukan sekadar cerita yang ditulis dalam bentuk puisi. Ia merupakan bentuk sastra yang sangat disiplin dalam struktur bahasa dan irama. Setiap bait disusun mengikuti pola metrum tertentu yang berasal dari tradisi puisi Sanskerta. Bagi seorang pujangga istana, kemampuan menulis kakawin menunjukkan penguasaan tinggi atas bahasa Kawi, simbol sastra, serta kemampuan merangkai makna dalam struktur bunyi yang teratur.

Cerita Kakawin Sutasoma berpusat pada perjalanan seorang pangeran yang meninggalkan istana untuk mencari kebenaran hidup. Tokoh Sutasoma digambarkan sebagai figur yang penuh welas asih. Dalam berbagai peristiwa yang ia hadapi juga termasuk pertemuannya dengan raksasa pemakan manusia bernama Porusada, dan Sutasoma tidak menaklukkan musuh dengan kekuatan, melainkan melalui kebijaksanaan yang mengubah hati lawannya. Kisah ini memperlihatkan bahwa konflik dalam kakawin sering diselesaikan melalui transformasi moral, bukan kemenangan fisik.

Salah satu bagian paling terkenal dari Kakawin Sutasoma terdapat pada bait yang kemudian melahirkan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam teks Jawa Kuno, bait tersebut berbunyi :

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa 

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Jika dibaca secara sastra, bait ini menunjukkan kepiawaian penyair dalam merangkai gagasan melalui pengulangan bunyi dan permainan makna. Kata bhinnêka yang berarti “berbeda” muncul beberapa kali dalam susunan kalimat, namun selalu diikuti oleh penegasan tentang kesatuan. Pola ini menciptakan irama yang sekaligus menegaskan pesan utama bait tersebut yaitu perbedaan bukanlah pertentangan, melainkan bagian dari kesatuan yang lebih luas.

Teknik pengulangan seperti ini merupakan salah satu ciri khas kakawin Jawa Kuno. Penyair tidak sekadar menyampaikan pesan secara langsung, tetapi membangun makna melalui ritme kata. Dalam pembacaan tradisional, bait kakawin biasanya dilantunkan sehingga keindahan bunyinya terasa sama pentingnya dengan isi maknanya. Dengan cara ini, sastra tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar sebagai pengalaman estetika.

Selain permainan bunyi, Kakawin Sutasoma juga memperlihatkan kepadatan simbol yang khas dalam sastra Jawa Kuno. Tokoh Sutasoma, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai pahlawan cerita, tetapi juga melambangkan kebijaksanaan yang mampu meredakan kekacauan. Musuh yang dihadapinya adalah raksasa, raja lalim, atau makhluk buas yang sering kali menggambarkan sisi gelap dalam diri manusia. Ketika konflik berakhir dengan perubahan hati, cerita tersebut menyampaikan pesan moral tentang kemungkinan transformasi dalam kehidupan.

Dalam sejarah sastra Nusantara, Kakawin Sutasoma sering disejajarkan dengan karya besar lain seperti Nagarakretagama karya Mpu Prapanca. Jika Nagarakretagama dikenal sebagai deskripsi puitis tentang kekuasaan dan wilayah Majapahit, maka Sutasoma memperlihatkan sisi etika dan spiritual dari kebudayaan yang sama. Kedua karya ini menunjukkan bahwa sastra istana pada masa itu tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga merumuskan nilai-nilai yang dianggap penting bagi masyarakat.

Lebih dari enam abad setelah ditulis, Kakawin Sutasoma tetap dibaca sebagai salah satu mahakarya sastra Jawa Kuno. Di dalam bait-baitnya tersimpan kehalusan bahasa, kedalaman simbol, serta gagasan tentang harmoni yang melampaui zamannya. Dari lembar-lembar puisi inilah lahir sebuah kalimat yang terus diingat hingga hari ini Bhinneka Tunggal Ika, sebuah pesan lama dari sastra Majapahit yang masih menemukan maknanya dalam kehidupan Indonesia modern. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri