INFO
BUDAYA

KINARA dan KINARI - Burung Kahyangan dalam Artefak Arkeologi Nusantara

Makna Mitologis, Filosofis, dan Jejak Budaya Kinara - Kinari pada Relief Candi Hindu-Buddha di Indonesia.
KINARA dan KINARI - Burung Kahyangan dalam Artefak Arkeologi Nusantara
Arca KINARI | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Dalam lanskap artefak arkeologi Indonesia, arca dan relief Kinara dan Kinari menempati posisi penting sebagai penanda hadirnya dunia simbolik yang kaya dalam peradaban Hindu-Buddha. Keduanya bukan sekadar figur mitologis, melainkan bagian dari sistem visual yang membentuk cara masyarakat Nusantara klasik memahami hubungan antara manusia, alam, dan sang pencipta.

Kinara dan Kinari berasal dari tradisi mitologi India, digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah burung yang hidup di kahyangan. Kinara merupakan figur laki-laki, sedangkan Kinari adalah pasangannya yang perempuan. Dalam teks-teks Buddhis dan Hindu, mereka dikenal sebagai musisi surgawi, penghuni taman para dewa, serta simbol kebahagiaan dan kesetiaan. Namun ketika konsep ini masuk ke Nusantara, maknanya berkembang dan menyesuaikan dengan kosmologi lokal.

Dalam konteks arkeologi, Kinara-Kinari menarik karena selalu hadir dalam ruang-ruang penting bangunan suci. Mereka jarang ditempatkan secara acak. Relief atau arca Kinara-Kinari biasanya berada di kaki candi, lorong, atau dinding luar, yakni zona transisi antara ruang profan dan ruang sakral. Penempatan ini menunjukkan bahwa Kinara-Kinari berfungsi sebagai mediator simbolik, pengantar visual bagi peziarah yang memasuki wilayah spiritual.

Secara ikonografis, Kinara–Kinari digambarkan memiliki kepala dan tubuh atas manusia dengan wajah tenang dan idealis, sementara tubuh bawahnya berupa burung lengkap dengan sayap. Bentuk ini bukan sekadar estetika, melainkan representasi filosofi dimana manusia adalah makhluk bumi yang memiliki potensi spiritual untuk “terbang” menuju kesadaran yang lebih tinggi. Sayap menjadi simbol pembebasan jiwa, sedangkan wajah manusia merepresentasikan kesadaran, akal, dan rasa.

Makna ini menjadikan Kinara-Kinari sebagai simbol harmoni. Dalam pandangan kosmologis Timur, dunia tidak dipahami secara dikotomis, melainkan sebagai jaringan keseimbangan. Kinara (maskulin) dan Kinari (feminin) melambangkan dualitas yang saling melengkapi seperti langit dan bumi, logika dan intuisi, raga dan jiwa. Karena itu, dalam banyak tradisi Asia, mereka juga dimaknai sebagai simbol kesetiaan dan cinta ideal, pasangan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kosmis.

Jejak Kinara-Kinari di Nusantara dapat ditemukan di berbagai situs penting. Di Candi Borobudur, relief Kinara-Kinari muncul dalam lorong-lorong sebagai makhluk kahyangan yang berada di alam Buddha, sering digambarkan memuja atau hadir dalam lanskap surgawi. Di Candi Mendut, motif serupa tampil sebagai ornamen spiritual yang memperkuat karakter Buddhis pada bangunan. Sementara di kompleks Candi Prambanan, Kinara-Kinari hadir sebagai bagian dari dunia dewa-dewi dalam narasi epik Ramayana.

Pada masa Jawa Timur, khususnya era Singhasari dan Majapahit, Kinara-Kinari tetap muncul, tetapi dengan gaya visual yang lebih naturalistik. Di Candi Penataran, misalnya, sosok ini menjadi bagian dari bahasa simbolik yang mengaitkan kekuasaan raja dengan legitimasi jagad raya. Artinya, raja tidak hanya berkuasa secara politik, tetapi juga secara spiritual, berada dalam harmoni dengan tatanan alam semesta.

Di luar Jawa, fragmen Kinara-Kinari juga ditemukan di Situs Muaro Jambi, yang mencerminkan kuatnya pengaruh Buddhisme Mahayana di Sumatra pada masa Sriwijaya. Sementara di Bali, motif Kinara-Kinari masih hidup dalam seni ukir pura-pura tua, tidak lagi semata sebagai figur mitologis, tetapi sebagai makhluk penjaga kesucian ruang.

Dalam perspektif arkeologi budaya, Kinara-Kinari menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara klasik memiliki cara pandang simbolik yang kompleks. Mereka mengekspresikan nilai-nilai kehidupan melalui bentuk visual yang terstruktur ketika seni tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi media transmisi gagasan tentang kosmos, moralitas, dan eksistensi manusia.

Arca dan relief Kinara-Kinari pada akhirnya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan artefak ideologis. Ia menyimpan pesan tentang manusia ideal ketika manusia yang hidup seimbang antara dunia material dan spiritual, tidak terputus dari alam, serta selalu menjaga harmoni dalam relasi sosial dan kosmis. Dalam konteks ini, Kinara dan Kinari dapat dibaca sebagai metafora peradaban Nusantara itu sendiri sebagai sebuah peradaban yang memandang keindahan bukan sekadar estetika, tetapi sebagai wujud keselarasan hidup. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

KINARA dan KINARI - Burung Kahyangan dalam Artefak Arkeologi Nusantara

Makna Mitologis, Filosofis, dan Jejak Budaya Kinara - Kinari pada Relief Candi Hindu-Buddha di Indonesia.

Super Admin
16 Feb 2026 • 45x dibaca
KINARA dan KINARI - Burung Kahyangan dalam Artefak Arkeologi Nusantara
Arca KINARI | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Dalam lanskap artefak arkeologi Indonesia, arca dan relief Kinara dan Kinari menempati posisi penting sebagai penanda hadirnya dunia simbolik yang kaya dalam peradaban Hindu-Buddha. Keduanya bukan sekadar figur mitologis, melainkan bagian dari sistem visual yang membentuk cara masyarakat Nusantara klasik memahami hubungan antara manusia, alam, dan sang pencipta.

Kinara dan Kinari berasal dari tradisi mitologi India, digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah burung yang hidup di kahyangan. Kinara merupakan figur laki-laki, sedangkan Kinari adalah pasangannya yang perempuan. Dalam teks-teks Buddhis dan Hindu, mereka dikenal sebagai musisi surgawi, penghuni taman para dewa, serta simbol kebahagiaan dan kesetiaan. Namun ketika konsep ini masuk ke Nusantara, maknanya berkembang dan menyesuaikan dengan kosmologi lokal.

Dalam konteks arkeologi, Kinara-Kinari menarik karena selalu hadir dalam ruang-ruang penting bangunan suci. Mereka jarang ditempatkan secara acak. Relief atau arca Kinara-Kinari biasanya berada di kaki candi, lorong, atau dinding luar, yakni zona transisi antara ruang profan dan ruang sakral. Penempatan ini menunjukkan bahwa Kinara-Kinari berfungsi sebagai mediator simbolik, pengantar visual bagi peziarah yang memasuki wilayah spiritual.

Secara ikonografis, Kinara–Kinari digambarkan memiliki kepala dan tubuh atas manusia dengan wajah tenang dan idealis, sementara tubuh bawahnya berupa burung lengkap dengan sayap. Bentuk ini bukan sekadar estetika, melainkan representasi filosofi dimana manusia adalah makhluk bumi yang memiliki potensi spiritual untuk “terbang” menuju kesadaran yang lebih tinggi. Sayap menjadi simbol pembebasan jiwa, sedangkan wajah manusia merepresentasikan kesadaran, akal, dan rasa.

Makna ini menjadikan Kinara-Kinari sebagai simbol harmoni. Dalam pandangan kosmologis Timur, dunia tidak dipahami secara dikotomis, melainkan sebagai jaringan keseimbangan. Kinara (maskulin) dan Kinari (feminin) melambangkan dualitas yang saling melengkapi seperti langit dan bumi, logika dan intuisi, raga dan jiwa. Karena itu, dalam banyak tradisi Asia, mereka juga dimaknai sebagai simbol kesetiaan dan cinta ideal, pasangan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kosmis.

Jejak Kinara-Kinari di Nusantara dapat ditemukan di berbagai situs penting. Di Candi Borobudur, relief Kinara-Kinari muncul dalam lorong-lorong sebagai makhluk kahyangan yang berada di alam Buddha, sering digambarkan memuja atau hadir dalam lanskap surgawi. Di Candi Mendut, motif serupa tampil sebagai ornamen spiritual yang memperkuat karakter Buddhis pada bangunan. Sementara di kompleks Candi Prambanan, Kinara-Kinari hadir sebagai bagian dari dunia dewa-dewi dalam narasi epik Ramayana.

Pada masa Jawa Timur, khususnya era Singhasari dan Majapahit, Kinara-Kinari tetap muncul, tetapi dengan gaya visual yang lebih naturalistik. Di Candi Penataran, misalnya, sosok ini menjadi bagian dari bahasa simbolik yang mengaitkan kekuasaan raja dengan legitimasi jagad raya. Artinya, raja tidak hanya berkuasa secara politik, tetapi juga secara spiritual, berada dalam harmoni dengan tatanan alam semesta.

Di luar Jawa, fragmen Kinara-Kinari juga ditemukan di Situs Muaro Jambi, yang mencerminkan kuatnya pengaruh Buddhisme Mahayana di Sumatra pada masa Sriwijaya. Sementara di Bali, motif Kinara-Kinari masih hidup dalam seni ukir pura-pura tua, tidak lagi semata sebagai figur mitologis, tetapi sebagai makhluk penjaga kesucian ruang.

Dalam perspektif arkeologi budaya, Kinara-Kinari menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara klasik memiliki cara pandang simbolik yang kompleks. Mereka mengekspresikan nilai-nilai kehidupan melalui bentuk visual yang terstruktur ketika seni tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi media transmisi gagasan tentang kosmos, moralitas, dan eksistensi manusia.

Arca dan relief Kinara-Kinari pada akhirnya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan artefak ideologis. Ia menyimpan pesan tentang manusia ideal ketika manusia yang hidup seimbang antara dunia material dan spiritual, tidak terputus dari alam, serta selalu menjaga harmoni dalam relasi sosial dan kosmis. Dalam konteks ini, Kinara dan Kinari dapat dibaca sebagai metafora peradaban Nusantara itu sendiri sebagai sebuah peradaban yang memandang keindahan bukan sekadar estetika, tetapi sebagai wujud keselarasan hidup. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri