YOGYAKARTA - Di antara nama-nama besar dalam sejarah sastra Nusantara, Mpu Tantular menempati posisi yang sangat penting. Ia dikenal sebagai pujangga yang hidup pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan sebagai pengarang karya sastra besar Kakawin Sutasoma. Namun lebih dari sekadar pengarang, Mpu Tantular juga merupakan seorang pemikir yang menyampaikan gagasan filsafat melalui bahasa sastra Jawa Kuno yang halus dan simbolik.
Dalam tradisi kakawin, pujangga tidak sekadar menulis cerita. Ia membangun dunia pemikiran melalui susunan bait yang terikat metrum, pilihan kata yang presisi, serta simbol-simbol yang mengandung lapisan makna. Kakawin Sutasoma memperlihatkan bagaimana sastra Jawa Kuno mampu menjadi ruang refleksi tentang kehidupan, harmoni, dan kebijaksanaan manusia.
Salah satu hal yang menarik dari tokoh ini justru terdapat pada namanya sendiri. Nama Tantular sering dipahami berasal dari dua unsur kata, tan dan tular. Dalam pengertian bahasa Jawa Kuno, tan berarti “tidak”, sementara tular dapat dimaknai sebagai “terpengaruh”, “menular”, atau “terbawa arus”. Dengan demikian, nama Tantular dapat dimaknai sebagai seseorang yang tidak mudah terpengaruh oleh pertentangan atau perpecahan. Makna ini memberikan petunjuk penting tentang arah pemikiran yang tercermin dalam karya-karyanya.
Filosofi tan-tular bukan sekadar nama, melainkan sikap batin yang tercermin dalam sastra yang ditulisnya. Dalam Kakawin Sutasoma, konflik keagamaan dan perbedaan keyakinan tidak digambarkan sebagai alasan untuk pertentangan yang tak berujung. Sebaliknya, perbedaan dipahami sebagai kenyataan kehidupan yang harus ditempatkan dalam kerangka kebijaksanaan dan keseimbangan.
Gagasan ini paling terkenal melalui bait yang melahirkan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kalimat yang kemudian dikenal luas dalam sejarah Indonesia. Dalam konteks sastra kakawin, kalimat tersebut bukan sekadar semboyan, melainkan bagian dari refleksi filosofis mengenai keberagaman keyakinan dalam masyarakat Majapahit. Sastra di tangan Mpu Tantular menjadi sarana untuk menyampaikan pemikiran tentang kesatuan yang lahir dari pemahaman, bukan dari penyeragaman.
Struktur kakawin sendiri memperlihatkan kedalaman estetika sastra Jawa Kuno. Setiap bait ditulis dengan pola metrum tertentu yang diwarisi dari tradisi sastra India, namun diolah kembali dalam bahasa Kawi dengan nuansa lokal Nusantara. Melalui teknik ini, kisah perjalanan tokoh Sutasoma tidak hanya menjadi cerita moral, tetapi juga menjadi medium refleksi filosofis tentang jalan kebijaksanaan.
Dalam konteks kebudayaan Jawa Timur klasik, gagasan kebijaksanaan memiliki tempat yang sangat penting. Hal ini juga tercermin dalam karya seni seperti arca Prajnaparamita, yang melambangkan kesempurnaan pengetahuan dalam tradisi Buddha Mahayana. Simbol kebijaksanaan semacam ini menggambarkan suasana intelektual yang melingkupi dunia Majapahit sebagai sebuah lingkungan budaya tempat sastra, spiritualitas, dan filsafat saling bertemu.
Kakawin Sutasoma dapat dipahami sebagai bagian dari dunia intelektual tersebut. Melalui bahasa sastra yang terstruktur dan penuh simbol, Mpu Tantular menyampaikan gagasan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari penolakan terhadap perbedaan, melainkan dari kemampuan untuk memahami dan menempatkannya secara seimbang.
Hingga hari ini, sosok Mpu Tantular sendiri tetap berada dalam bayang-bayang sejarah. Tidak ada potret pasti tentang wajahnya, tidak ada catatan rinci mengenai kehidupannya. Namun warisan sastra yang ia tinggalkan terus hidup dan menjadi bagian dari khazanah intelektual Nusantara.
Dalam hal inilah arti nama Tantular kembali menemukan maknanya. Seorang pujangga yang tidak larut dalam pertentangan zamannya, tetapi memilih jalan sastra untuk merumuskan gagasan kebijaksanaan. Melalui bait-bait kakawin yang ditulis lebih dari enam abad lalu, pemikiran itu tetap bergema hingga sekarang sebagai pengingat bahwa sastra sering kali menjadi tempat paling sunyi sekaligus paling kuat untuk menyimpan filsafat kehidupan. Handoko Suman