SURAKARTA – Dalam kajian keilmuan keris dan sejarah budaya penentuan masa pembuatan adalah tahap paling awal dan mutlak dilakukan sebelum masuk ke pembahasan unsur lainnya. Hal ini bukan sekadar penomoran tahun atau penanggalan biasa melainkan sebuah sistem klasifikasi ilmiah yang dibangun nenek moyang untuk membedakan karakter mutu bahan gaya dan nilai pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Pembagian ini dikenal secara baku menjadi tiga periode besar yaitu Zaman Kuno Zaman Madya dan Zaman Anyar. Memahami batasan ciri dan makna masing-masing zaman adalah kunci epistemologi untuk melacak asal-usul dan keaslian sebilah keris sekaligus memahami perkembangan pemikiran masyarakat pembuatnya. Pembahasan ini tidak menelusuri sejarah kerajaan melainkan menelusuri perubahan wujud dan ilmu pengetahuan sepanjang masa pembuatannya.
Secara definisi dan batasan waktu menurut pakar keilmuan keris tradisi Jawa terdapat pembagian tegas. Zaman Kuno mencakup rentang waktu dari masa awal mula ditemukannya ilmu penempaan hingga sekitar abad ke-14 atau berakhirnya kekuasaan Kerajaan Majapahit. Zaman Madya dimulai sejak masuknya pengaruh Islam berdirinya kerajaan-kerajaan baru di tanah Jawa hingga runtuhnya Kesultanan Mataram Islam atau pertengahan abad ke-18. Zaman Anyar dimulai sejak terpecahnya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta berlanjut hingga masa kini. Masing-masing zaman memiliki karakteristik yang sangat khas terukur dan menjadi patokan baku penelitian.
Zaman Kuno memiliki ciri utama yang terletak pada sifatnya yang tegas kokoh dan berkarakter alamiah. Secara fisik ukuran keris zaman kuno cenderung lebih panjang dan besar dibandingkan zaman selanjutnya. Bahan baku yang digunakan dominan berasal dari bijih besi alam murni atau besi meteorit yang didapatkan langsung dari alam tanpa proses pencampuran rumit. Teknik pembuatan pamor masih bersifat alami dan sederhana yang mengikuti serat asli bahan dan belum berupa pola-pola buatan yang dirancang khusus. Bentuk bilah umumnya lurus atau berluk sedikit dengan lekukan yang tegas dan dalam. Secara epistemologi pengetahuan zaman ini berpusat pada pemahaman unsur alam semesta seperti tanah api air dan angin. Ilmu pengetahuan masih sangat erat kaitannya dengan kekuatan kosmos dan kesatuan dengan alam. Nilai rasa keris zaman kuno dikenal sangat kuat keras dan memiliki wibawa yang besar yang mencerminkan karakter masyarakat masa itu yang hidup berhadapan langsung dengan alam liar dan tantangan hidup yang berat.
Zaman Madya merupakan masa puncak perkembangan ilmu pengetahuan keris. Pada zaman ini teknik seni dan pemikiran filosofis berkembang sangat pesat dan mencapai titik kesempurnaan. Ukuran keris zaman Madya mulai menyesuaikan menjadi lebih proporsional yang tidak terlalu besar namun padat isi. Inovasi terbesar terjadi pada bahan baku karena mulai dikenal teknik pencampuran besi dan baja dengan perbandingan yang terukur serta rumus khusus. Teknik pembuatan pamor sudah sangat maju karena pola-pola buatan seperti Banyu Mili Sekar Kembang atau Sengoro mulai dikembangkan dengan detail yang sangat indah dan beraturan. Bentuk luk menjadi lebih beragam lembut dan dinamis. Dari sisi pengetahuan zaman Madya adalah masa penyatuan nilai-nilai luhur. Ilmu keris tidak lagi bicara kekuatan alam semata tetapi sudah sarat dengan nilai moral etika dan ajaran kehidupan. Keris pada masa ini menjadi simbol keseimbangan antara kekuatan dan kehalusan serta antara wujud dan makna. Inilah sebabnya karya zaman Madya sering dianggap sebagai karya terbaik dan paling sempurna dalam sejarah perkerisan.
Zaman Anyar ditandai dengan penyempurnaan bentuk dan penurunan kualitas bahan secara bertahap. Ukuran keris zaman Anyar cenderung lebih kecil pendek dan ramping yang menyesuaikan dengan selera kehalusan dan gaya hidup lingkungan keraton yang semakin tertata rapi. Bahan baku yang digunakan mulai beralih ke besi dagangan atau besi pasaran yang lebih mudah didapat namun penggunaan baja semakin banyak untuk menambah kekerasan. Ciri paling menonjol adalah bentuk dapur dan pamor yang sangat variatif rumit dan rapi namun sering kali pola pamornya hanya tampak di permukaan saja dan tidak masuk ke dalam serat logam. Secara epistemologi pengetahuan zaman ini lebih menekankan pada aspek seni keindahan rupa dan kelengkapan atribut. Nilai rasa keris zaman Anyar cenderung halus tenang dan sopan yang mencerminkan tatanan masyarakat yang sudah tertib beradab dan memiliki etika tinggi.
Pembedaan tiga masa ini bukan berarti menilai mana yang lebih baik atau buruk melainkan memahami perubahan pengetahuan dan selera budaya sepanjang sejarah. Keris Zaman Kuno adalah bukti penguasaan alam Zaman Madya adalah bukti kesempurnaan ilmu dan Zaman Anyar adalah bukti penyempurnaan seni. Ketiganya adalah satu kesatuan sejarah pemikiran bangsa yang wajib dipahami dengan patokan yang benar agar tidak terjadi kekeliruan penafsiran nilai budaya. Handoko Suman