SURABAYA - Arca kepala raksasa yang dikenal sebagai Kala merupakan salah satu elemen penting dalam seni bangunan keagamaan Hindu di Indonesia. Objek ini umumnya ditempatkan di bagian atas pintu masuk candi atau struktur sakral lainnya. Ciri utama yang menandai identitasnya adalah bentuk wajah dengan mata melotot, hidung besar, dan mulut terbuka lebar, seringkali disertai gigi atau taring yang menonjol. Arca pada foto memperlihatkan karakteristik tersebut, meskipun telah mengalami pelapukan yang cukup signifikan.
Dalam kajian arsitektur klasik Jawa, Kala memiliki fungsi sebagai elemen penjaga pada bagian peralihan ruang. Posisi penempatannya yang strategis di atas pintu menunjukkan bahwa arca ini berperan dalam menandai batas antara ruang luar dan ruang dalam. Oleh karena itu, keberadaannya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian integral dari sistem bangunan. Dalam banyak kasus, Kala dipasangkan dengan makara pada sisi kiri dan kanan pintu, membentuk komposisi yang dikenal luas dalam studi arkeologi sebagai pola dekoratif sekaligus simbolik.
Asal-usul bentuk Kala dapat ditelusuri hingga tradisi India, khususnya konsep wajah raksasa yang kemudian mengalami adaptasi lokal di Jawa. Proses adaptasi ini menghasilkan variasi bentuk yang cukup beragam, tergantung pada periode dan wilayah pembuatannya. Pada masa Jawa Timur, bentuk Kala cenderung lebih ekspresif dengan penekanan pada volume dan ekspresi wajah dibandingkan detail ornamen yang rumit. Hal ini terlihat pada objek yang memiliki proporsi besar dan ekspresi wajah yang dominan meskipun detail ukiran telah terkikis.
Material batu yang digunakan, kemungkinan besar andesit, menunjukkan kesesuaian dengan teknik konstruksi candi di wilayah Jawa Timur. Tingkat keausan pada permukaan arca mengindikasikan usia yang cukup tua serta kemungkinan paparan lingkungan terbuka dalam jangka waktu lama. Selain itu, kondisi arca yang saat ini berdiri terpisah dari struktur aslinya menunjukkan bahwa objek ini telah mengalami perpindahan dari lokasi awalnya. Fenomena ini umum terjadi pada banyak artefak candi yang ditemukan kembali dalam kondisi terlepas dari konteks arsitekturalnya.
Dalam interpretasi fungsi, Kala tidak hanya berperan sebagai elemen dekoratif, tetapi juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan konsep perlindungan. Penempatan di atas pintu dapat dipahami sebagai bentuk penegasan batas yang harus dilalui sebelum memasuki ruang tertentu. Dengan demikian, arca ini berfungsi sebagai penanda visual sekaligus penguat struktur ruang dalam bangunan keagamaan. Fungsi ini menjadi tidak sepenuhnya terbaca ketika arca dipindahkan dan dipajang sebagai objek mandiri.
Perubahan konteks dari elemen arsitektural menjadi objek display modern memunculkan persoalan dalam interpretasi. Tanpa keberadaan struktur pendukung seperti pintu atau dinding candi, makna asli arca menjadi tereduksi. Informasi yang tersisa hanya pada bentuk visual, sementara relasi spasial yang menjadi kunci fungsi awalnya tidak lagi terlihat. Oleh karena itu, kajian terhadap arca Kala memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada objek, tetapi juga pada rekonstruksi konteks penggunaannya.
Berdasarkan ciri bentuk, ekspresi, dan material, arca Kala pada objek ini dapat dikaitkan dengan tradisi seni bangunan Jawa Timur periode klasik. Meskipun data lokasi asal terbatas pada informasi temuan di wilayah Tulungagung, pendekatan komparatif dengan temuan lain di kawasan tersebut dapat membantu memperkuat identifikasi. Penelitian lebih lanjut yang melibatkan data arkeologis tambahan sangat diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam fungsi dan posisi arca ini dalam struktur bangunan asalnya. Handoko Suman