BUKITTINGGI — Di banyak kota tua Indonesia, bunyi derap kuda pernah menjadi denyut utama mobilitas masyarakat. Sebelum kendaraan bermotor mendominasi jalan, kereta kuda hadir sebagai simbol pergerakan sosial, ekonomi, bahkan prestise. Empat istilah yang paling dikenal pada saat itu adalah dokar, delman, bendi, dan dos dan itu bukanlah sekadar nama kendaraan, melainkan jejak bahasa dan sejarah kolonial yang melebur ke dalam kebudayaan lokal.
Dokar merupakan sebutan yang lazim di wilayah Jawa. Secara etimologis, kata ini diyakini berasal dari istilah Inggris “dog cart,” kereta ringan dua roda yang populer di Eropa abad ke-19. Dalam pelafalan masyarakat lokal pada masa kolonial, “dog cart” berubah menjadi “dokar.” Bentuknya sederhana adalah dua roda, satu kuda penarik, kusir duduk di depan, dan penumpang menghadap ke arah perjalanan. Dokar lebih banyak digunakan untuk transportasi jarak pendek di kota kecil maupun pedesaan. Karakternya praktis dan ekonomis.
Berbeda dengan dokar, yaitu delman memiliki kisah penamaan yang lebih personal. Istilah ini diyakini berasal dari nama seorang Belanda, Charles Theodore Deeleman, yang disebut-sebut memperkenalkan model kereta tertentu di Batavia. Nama “Deeleman” kemudian diserap lidah lokal menjadi “delman.” Kendaraan ini identik dengan budaya Betawi dan hingga kini masih dapat dijumpai di sekitar kawasan wisata seperti Monumen Nasional. Secara bentuk, delman umumnya beroda dua dengan posisi duduk penumpang saling berhadapan. Nuansanya lebih sosial karena memungkinkan interaksi langsung antar penumpang.
Di Sumatera Barat, terutama di kota Bukittinggi, istilah yang hidup adalah bendi. Kata ini diduga berasal dari adaptasi istilah Belanda atau kemungkinan pengaruh Inggris seperti “buggy.” Seperti dokar dan delman, bendi umumnya beroda dua dan ditarik satu kuda. Namun secara estetika, bendi memiliki sentuhan ornamen Minangkabau yang lebih khas. Hiasan ukiran dan warna-warna mencolok menjadikannya bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas budaya daerah.
Sementara itu, dos memiliki akar linguistik yang berbeda. Istilah ini berasal dari “dos-à-dos,” bahasa Prancis yang berarti “punggung dengan punggung.” Model kereta ini menempatkan kursi penumpang saling membelakangi. Pada masa kolonial, dos sering kali beroda empat dan berukuran lebih besar dibandingkan dokar atau delman. Karena dimensinya yang lebih luas, dos kerap digunakan untuk perjalanan resmi atau membawa lebih banyak penumpang. Kini istilah ini jarang terdengar, tetapi pernah menjadi bagian dari lanskap transportasi kota-kota kolonial di Jawa.
Jika dibandingkan, perbedaan utama keempatnya terletak pada tiga aspek asal penamaan, konstruksi fisik, dan konteks sosial penggunaannya. Dokar dan bendi sama-sama beroda dua dan berfungsi praktis, tetapi berkembang di wilayah budaya berbeda di Jawa dan Minangkabau. Delman menonjol pada pola duduk berhadapan dan keterkaitannya dengan sejarah Batavia. Dos lebih kompleks dalam struktur, sering beroda empat dan memiliki konfigurasi kursi membelakangi.
Dari sisi historis, semuanya lahir dalam konteks kolonial abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pemerintah Hindia Belanda membawa sistem transportasi Eropa ke Nusantara, namun masyarakat lokal tidak sekadar meniru. Mereka mengadaptasi, mengubah bunyi bahasa, menyesuaikan bentuk, dan memberi sentuhan estetika sesuai selera daerah. Proses inilah yang menjadikan istilah asing bertransformasi menjadi kosakata lokal yang hidup hingga kini.
Lebih dari sekadar kendaraan, dokar, delman, bendi, dan dos mencerminkan dinamika pertemuan budaya. Bahasa kolonial melebur dengan lidah Nusantara, teknologi Eropa menyatu dengan kearifan lokal, dan fungsi transportasi berubah menjadi simbol tradisi. Roda-roda kayu yang dahulu berderit di jalan tanah kini mungkin telah tergantikan mesin, tetapi namanya tetap bertahan sebagai penanda sejarah.
Dalam konteks kebudayaan, keempat istilah ini menunjukkan bahwa identitas Indonesia dibangun melalui proses asimilasi panjang. Dari “dog cart” menjadi dokar, dari “Deeleman” menjadi delman, dari “dos-à-dos” menjadi dos, hingga bendi yang menemukan bentuknya sendiri di ranah Minang dan itu semua adalah bukti bahwa sejarah tidak hanya tercatat dalam arsip, tetapi juga dalam bahasa sehari-hari yang terus kita ucapkan. Handoko Suman