INFO
ARSITEKTUR

RUMAH KAPITEN TAN JIN SING - di Kampung Ketandan Yogyakarta

Artefak Arsitektur Akulturasi dan Ruang Sosial Pecinan
RUMAH KAPITEN TAN JIN SING - di Kampung Ketandan Yogyakarta
Kediaman iTan Jing Sing | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Bangunan bukan sekadar benda mati. Ia menyimpan ingatan, merekam peristiwa, dan memelihara jejak hubungan manusia di dalam ruang. Di Yogyakarta, salah satu bangunan yang memikul beban ingatan sejarah itu adalah Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Kampung Ketandan. Rumah ini tidak hanya menjadi peninggalan fisik masa kolonial, tetapi juga arsip ruang yang merekam pertemuan identitas Jawa, Tionghoa, dan Eropa dalam lanskap sosial kota.

Ketandan sendiri merupakan kawasan Pecinan tertua di Yogyakarta, terletak di antara Pasar Beringharjo, Malioboro, dan Keraton. Secara geografis dan simbolik, kawasan ini berada di wilayah peralihan antara pusat kekuasaan politik Jawa dan pusat aktivitas ekonomi kolonial. Di ruang inilah komunitas Tionghoa membangun jaringan sosial, ekonomi, dan kulturalnya. Rumah Tan Jin Sing berdiri tepat di jantung ruang tersebut, menjadikannya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan titik simpul interaksi lintas etnis dan kepentingan.

Secara arsitektural, rumah ini menampilkan wajah hibrida atau perpaduan budaya. Fasadnya menunjukkan pengaruh Eropa melalui bentuk simetris, deretan kolom silindris, serta teras lebar yang menghadap jalan. Unsur ini mencerminkan gaya rumah pejabat kolonial awal abad ke-19, yang menekankan keterbukaan, keteraturan, dan representasi status sosial. Namun, di balik wajah kolonial itu, struktur ruang rumah justru mengikuti pola Tionghoa seperti memanjang ke belakang, berlapis - lapis dari ruang publik hingga privat, serta menggabungkan fungsi hunian dan aktivitas ekonomi.

Di saat yang sama, logika ruangnya juga mengandung prinsip Jawa. Terdapat hierarki ruang dari depan ke belakang, dari ruang luar yang bersifat sosial menuju ruang dalam yang bersifat personal dan simbolik. Rumah ini tidak berdiri sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem relasi sosial. Ia berfungsi sebagai tempat menerima tamu, ruang musyawarah, sekaligus pusat jaringan komunitas. Dengan demikian, rumah ini adalah arsitektur pertemuan tiga dunia yaitu Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

Keberadaan rumah ini tidak dapat dipisahkan dari sosok penghuninya yaitu Tan Jin Sing, seorang tokoh Tionghoa peranakan yang menjabat sebagai Kapiten Cina di Yogyakarta pada awal abad ke-19. Dalam sistem pemerintahan kolonial, Kapiten Cina adalah pemimpin resmi komunitas Tionghoa yang bertugas mengelola urusan sosial, ekonomi, dan administratif komunitasnya. Jabatan ini menjadikan Tan Jin Sing sebagai figur elite, penghubung antara masyarakat Tionghoa, pemerintah kolonial, dan Keraton Yogyakarta.

Namun perjalanan Tan Jin Sing tidak berhenti pada identitas Kapiten. Pada tahun 1813, ia diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III dan diberi gelar bangsawan Jawa yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Peristiwa ini menandai transformasi identitas yang sangat langka dalam sejarah Jawa kepada seorang pemimpin Tionghoa yang masuk ke dalam struktur aristokrasi keraton. Ia tidak lagi hanya mewakili komunitas etnis, tetapi menjadi bagian dari elite politik lokal.

Dalam konteks ini, Rumah Tan Jin Sing di Ketandan memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar rumah Kapiten Cina, tetapi juga rumah seorang bangsawan Jawa. Rumah ini menjadi ruang peralihan identitas, tempat di mana garis-garis etnis menjadi cair, dan struktur sosial dinegosiasikan ulang. Di dalam ruang ini, perjumpaan budaya tidak terjadi secara abstrak, tetapi hadir secara nyata melalui arsitektur, tata ruang, dan praktik sosial sehari-hari.

Secara simbolik, rumah ini dapat dibaca sebagai cermin sejarah multikultural Yogyakarta. Ia memperlihatkan bahwa kota ini tidak hanya dibentuk oleh narasi keraton atau kolonialisme semata, tetapi juga oleh peran komunitas Tionghoa sebagai aktor penting dalam dinamika ekonomi, politik, dan budaya. Rumah Tan Jin Sing menjadi bukti bahwa arsitektur bukan hanya soal bentuk, melainkan juga soal relasi kuasa, identitas, dan ingatan kolektif.

Dengan demikian, Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Ketandan tidak seharusnya dipahami hanya sebagai bangunan tua yang dilestarikan. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan memori sosial, sebuah artefak budaya yang mengajarkan bahwa sejarah kota dibentuk oleh pertemuan, bukan pemisahan oleh dialog dan bukan sekadar dominasi. Di dalam dinding-dindingnya, tersimpan kisah tentang bagaimana identitas dapat saling berkelindan, dan bagaimana arsitektur mampu menjadi bahasa sunyi dari perjalanan sejarah manusia. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
ARSITEKTUR

RUMAH KAPITEN TAN JIN SING - di Kampung Ketandan Yogyakarta

Artefak Arsitektur Akulturasi dan Ruang Sosial Pecinan

Super Admin
11 Feb 2026 • 43x dibaca
RUMAH KAPITEN TAN JIN SING - di Kampung Ketandan Yogyakarta
Kediaman iTan Jing Sing | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Bangunan bukan sekadar benda mati. Ia menyimpan ingatan, merekam peristiwa, dan memelihara jejak hubungan manusia di dalam ruang. Di Yogyakarta, salah satu bangunan yang memikul beban ingatan sejarah itu adalah Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Kampung Ketandan. Rumah ini tidak hanya menjadi peninggalan fisik masa kolonial, tetapi juga arsip ruang yang merekam pertemuan identitas Jawa, Tionghoa, dan Eropa dalam lanskap sosial kota.

Ketandan sendiri merupakan kawasan Pecinan tertua di Yogyakarta, terletak di antara Pasar Beringharjo, Malioboro, dan Keraton. Secara geografis dan simbolik, kawasan ini berada di wilayah peralihan antara pusat kekuasaan politik Jawa dan pusat aktivitas ekonomi kolonial. Di ruang inilah komunitas Tionghoa membangun jaringan sosial, ekonomi, dan kulturalnya. Rumah Tan Jin Sing berdiri tepat di jantung ruang tersebut, menjadikannya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan titik simpul interaksi lintas etnis dan kepentingan.

Secara arsitektural, rumah ini menampilkan wajah hibrida atau perpaduan budaya. Fasadnya menunjukkan pengaruh Eropa melalui bentuk simetris, deretan kolom silindris, serta teras lebar yang menghadap jalan. Unsur ini mencerminkan gaya rumah pejabat kolonial awal abad ke-19, yang menekankan keterbukaan, keteraturan, dan representasi status sosial. Namun, di balik wajah kolonial itu, struktur ruang rumah justru mengikuti pola Tionghoa seperti memanjang ke belakang, berlapis - lapis dari ruang publik hingga privat, serta menggabungkan fungsi hunian dan aktivitas ekonomi.

Di saat yang sama, logika ruangnya juga mengandung prinsip Jawa. Terdapat hierarki ruang dari depan ke belakang, dari ruang luar yang bersifat sosial menuju ruang dalam yang bersifat personal dan simbolik. Rumah ini tidak berdiri sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem relasi sosial. Ia berfungsi sebagai tempat menerima tamu, ruang musyawarah, sekaligus pusat jaringan komunitas. Dengan demikian, rumah ini adalah arsitektur pertemuan tiga dunia yaitu Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

Keberadaan rumah ini tidak dapat dipisahkan dari sosok penghuninya yaitu Tan Jin Sing, seorang tokoh Tionghoa peranakan yang menjabat sebagai Kapiten Cina di Yogyakarta pada awal abad ke-19. Dalam sistem pemerintahan kolonial, Kapiten Cina adalah pemimpin resmi komunitas Tionghoa yang bertugas mengelola urusan sosial, ekonomi, dan administratif komunitasnya. Jabatan ini menjadikan Tan Jin Sing sebagai figur elite, penghubung antara masyarakat Tionghoa, pemerintah kolonial, dan Keraton Yogyakarta.

Namun perjalanan Tan Jin Sing tidak berhenti pada identitas Kapiten. Pada tahun 1813, ia diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III dan diberi gelar bangsawan Jawa yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Peristiwa ini menandai transformasi identitas yang sangat langka dalam sejarah Jawa kepada seorang pemimpin Tionghoa yang masuk ke dalam struktur aristokrasi keraton. Ia tidak lagi hanya mewakili komunitas etnis, tetapi menjadi bagian dari elite politik lokal.

Dalam konteks ini, Rumah Tan Jin Sing di Ketandan memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar rumah Kapiten Cina, tetapi juga rumah seorang bangsawan Jawa. Rumah ini menjadi ruang peralihan identitas, tempat di mana garis-garis etnis menjadi cair, dan struktur sosial dinegosiasikan ulang. Di dalam ruang ini, perjumpaan budaya tidak terjadi secara abstrak, tetapi hadir secara nyata melalui arsitektur, tata ruang, dan praktik sosial sehari-hari.

Secara simbolik, rumah ini dapat dibaca sebagai cermin sejarah multikultural Yogyakarta. Ia memperlihatkan bahwa kota ini tidak hanya dibentuk oleh narasi keraton atau kolonialisme semata, tetapi juga oleh peran komunitas Tionghoa sebagai aktor penting dalam dinamika ekonomi, politik, dan budaya. Rumah Tan Jin Sing menjadi bukti bahwa arsitektur bukan hanya soal bentuk, melainkan juga soal relasi kuasa, identitas, dan ingatan kolektif.

Dengan demikian, Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Ketandan tidak seharusnya dipahami hanya sebagai bangunan tua yang dilestarikan. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan memori sosial, sebuah artefak budaya yang mengajarkan bahwa sejarah kota dibentuk oleh pertemuan, bukan pemisahan oleh dialog dan bukan sekadar dominasi. Di dalam dinding-dindingnya, tersimpan kisah tentang bagaimana identitas dapat saling berkelindan, dan bagaimana arsitektur mampu menjadi bahasa sunyi dari perjalanan sejarah manusia. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri