INFO
BUDAYA

SEGER dan GARUDEYA - Sang Penemu Benda Cagar Budaya

Sosok warga desa yang tanpa sengaja menemukan artefak kerajaan dan mengubah catatan sejarah Jawa Timur.
SEGER dan GARUDEYA -   Sang Penemu Benda Cagar Budaya
Hiasan GARUDEYA Airlangga | Foto Ilustrasi : Yufawaha

SIDOARJO - Nama Seger mungkin tidak banyak dikenal publik, tetapi perannya dalam sejarah Jawa Timur sangat penting. Ia adalah warga Desa Plaosan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, yang menemukan hiasan emas Garudeya pada tahun 1989. Tanpa dirinya, salah satu artefak emas paling penting dari masa kerajaan Airlangga kemungkinan besar tidak pernah diketahui oleh masyarakat luas.

Seger berasal dari keluarga petani desa. Ia bukan arkeolog dan bukan kolektor benda kuno. Penemuan Garudeya terjadi secara tidak sengaja ketika ia berada di area sawah di wilayah Plaosan. Tanah yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan sebuah benda emas besar dengan bentuk yang sangat detail. Saat pertama kali ditemukan, benda tersebut belum diketahui nilainya secara sejarah, tetapi berat dan bentuknya langsung menunjukkan bahwa itu bukan perhiasan biasa.

Setelah diteliti oleh pihak kebudayaan, benda tersebut diketahui sebagai hiasan Garudeya, sebuah hiasan dada kerajaan yang diperkirakan berasal dari abad ke-11, masa kekuasaan Raja Airlangga. Temuan ini menjadi sangat penting karena membuktikan bahwa wilayah Kediri pernah menjadi pusat kekuasaan besar dengan tingkat seni logam yang sangat tinggi.

Dalam konteks hukum, penemuan ini juga sangat penting. Negara sebenarnya sudah mengatur hak dan kewajiban penemu benda bersejarah melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa setiap orang yang menemukan benda yang diduga sebagai cagar budaya wajib melaporkannya kepada pemerintah. Namun undang-undang yang sama juga menyebut bahwa penemu berhak mendapatkan penghargaan dari negara karena telah membantu menyelamatkan warisan budaya bangsa.

Sayangnya, dalam banyak kasus di Indonesia, nama penemu justru sering hilang dari narasi sejarah. Artefak dipamerkan di museum, dijadikan literatur ilmiah, bahkan digunakan dalam video dokumenter, tetapi sosok penemunya tidak pernah disebutkan secara jelas. Padahal dalam dunia akademik, setiap karya ilmiah selalu mencantumkan sumber melalui catatan kaki. Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk setiap benda cagar budaya.

Karena itu, sudah saatnya setiap artefak yang dipamerkan di museum atau dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel, maupun video dokumenter mencantumkan nama penemunya secara jelas. Nama penemu harus ditempatkan seperti catatan kaki dalam karya ilmiah, sebagai bentuk penghargaan terhadap orang yang telah menyelamatkan sejarah. Tanpa penemu, banyak benda bersejarah mungkin sudah hilang, rusak, atau bahkan dijual secara ilegal.

Selain pencantuman nama, pemerintah juga seharusnya memberikan bentuk penghargaan yang lebih nyata. Penghargaan tidak hanya berupa piagam tertulis, tetapi juga pengakuan resmi dalam bentuk biodata penemu yang disimpan sebagai arsip nasional. Dengan begitu, generasi berikutnya tidak hanya mengenal artefaknya, tetapi juga mengenal siapa orang yang menemukan benda tersebut.

Biodata lengkap penemu juga penting karena menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Seger bukan tokoh besar, tetapi justru karena ia berasal dari masyarakat biasa, kisahnya menjadi sangat kuat. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu ditemukan oleh ahli, tetapi sering kali ditemukan oleh rakyat biasa yang hidup di sekitar situs-situs kuno.

Penemuan Garudeya Kediri bukan hanya tentang sebuah hiasan emas kerajaan, tetapi juga tentang seorang warga desa yang secara tidak sengaja menghidupkan kembali sejarah Jawa abad ke-11. Karena itu, nama Seger layak ditempatkan sebagai bagian penting dalam sejarah penemuan artefak di Indonesia, bukan hanya sebagai penemu, tetapi sebagai orang yang telah membantu menyelamatkan warisan budaya bangsa. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

SEGER dan GARUDEYA - Sang Penemu Benda Cagar Budaya

Sosok warga desa yang tanpa sengaja menemukan artefak kerajaan dan mengubah catatan sejarah Jawa Timur.

Super Admin
31 Mar 2026 • 73x dibaca
SEGER dan GARUDEYA -   Sang Penemu Benda Cagar Budaya
Hiasan GARUDEYA Airlangga | Foto Ilustrasi : Yufawaha

SIDOARJO - Nama Seger mungkin tidak banyak dikenal publik, tetapi perannya dalam sejarah Jawa Timur sangat penting. Ia adalah warga Desa Plaosan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, yang menemukan hiasan emas Garudeya pada tahun 1989. Tanpa dirinya, salah satu artefak emas paling penting dari masa kerajaan Airlangga kemungkinan besar tidak pernah diketahui oleh masyarakat luas.

Seger berasal dari keluarga petani desa. Ia bukan arkeolog dan bukan kolektor benda kuno. Penemuan Garudeya terjadi secara tidak sengaja ketika ia berada di area sawah di wilayah Plaosan. Tanah yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan sebuah benda emas besar dengan bentuk yang sangat detail. Saat pertama kali ditemukan, benda tersebut belum diketahui nilainya secara sejarah, tetapi berat dan bentuknya langsung menunjukkan bahwa itu bukan perhiasan biasa.

Setelah diteliti oleh pihak kebudayaan, benda tersebut diketahui sebagai hiasan Garudeya, sebuah hiasan dada kerajaan yang diperkirakan berasal dari abad ke-11, masa kekuasaan Raja Airlangga. Temuan ini menjadi sangat penting karena membuktikan bahwa wilayah Kediri pernah menjadi pusat kekuasaan besar dengan tingkat seni logam yang sangat tinggi.

Dalam konteks hukum, penemuan ini juga sangat penting. Negara sebenarnya sudah mengatur hak dan kewajiban penemu benda bersejarah melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa setiap orang yang menemukan benda yang diduga sebagai cagar budaya wajib melaporkannya kepada pemerintah. Namun undang-undang yang sama juga menyebut bahwa penemu berhak mendapatkan penghargaan dari negara karena telah membantu menyelamatkan warisan budaya bangsa.

Sayangnya, dalam banyak kasus di Indonesia, nama penemu justru sering hilang dari narasi sejarah. Artefak dipamerkan di museum, dijadikan literatur ilmiah, bahkan digunakan dalam video dokumenter, tetapi sosok penemunya tidak pernah disebutkan secara jelas. Padahal dalam dunia akademik, setiap karya ilmiah selalu mencantumkan sumber melalui catatan kaki. Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk setiap benda cagar budaya.

Karena itu, sudah saatnya setiap artefak yang dipamerkan di museum atau dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel, maupun video dokumenter mencantumkan nama penemunya secara jelas. Nama penemu harus ditempatkan seperti catatan kaki dalam karya ilmiah, sebagai bentuk penghargaan terhadap orang yang telah menyelamatkan sejarah. Tanpa penemu, banyak benda bersejarah mungkin sudah hilang, rusak, atau bahkan dijual secara ilegal.

Selain pencantuman nama, pemerintah juga seharusnya memberikan bentuk penghargaan yang lebih nyata. Penghargaan tidak hanya berupa piagam tertulis, tetapi juga pengakuan resmi dalam bentuk biodata penemu yang disimpan sebagai arsip nasional. Dengan begitu, generasi berikutnya tidak hanya mengenal artefaknya, tetapi juga mengenal siapa orang yang menemukan benda tersebut.

Biodata lengkap penemu juga penting karena menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Seger bukan tokoh besar, tetapi justru karena ia berasal dari masyarakat biasa, kisahnya menjadi sangat kuat. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu ditemukan oleh ahli, tetapi sering kali ditemukan oleh rakyat biasa yang hidup di sekitar situs-situs kuno.

Penemuan Garudeya Kediri bukan hanya tentang sebuah hiasan emas kerajaan, tetapi juga tentang seorang warga desa yang secara tidak sengaja menghidupkan kembali sejarah Jawa abad ke-11. Karena itu, nama Seger layak ditempatkan sebagai bagian penting dalam sejarah penemuan artefak di Indonesia, bukan hanya sebagai penemu, tetapi sebagai orang yang telah membantu menyelamatkan warisan budaya bangsa. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri