YOGYAKARTA - Sěrat Pawukon (SK.64) tersimpan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, dan merupakan bagian penting dari korpus manuskrip primbon Jawa. Dibuat pada tahun 1804, naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa, serta dilengkapi ilustrasi wayang kulit. Manuskrip ini mencatat sistem penanggalan dan pedoman aktivitas masyarakat agraris, sekaligus merekam ritual pertanian dan nilai budaya Jawa.
Naskah dibagi menjadi beberapa bagian. Fokus utama penyajian adalah dua wuku yaitu Gumbreg dan Watugunung, masing-masing berisi sembilan ilustrasi. Kelompok pertama menggambarkan karakter individu, berupa tokoh wayang Bathara Cakra, Bathara Antaboga, dan Bathari Nagagini, prajurit keluarga Prabu Watugunung, serta simbol pohon, burung, bangunan, dan air. Keterangan di atas gambar menjelaskan identitas tokoh, jenis pohon dan burung, ukuran atau arah bangunan, serta kondisi air. Semua unsur ini berfungsi sebagai indikator karakter dan sifat individu dalam konteks sosial dan ritual pertanian. Simbol kepala rasaksa menandai arah yang dianggap kurang menguntungkan sesuai posisi yang dihadapinya.
Kelompok kedua terdiri dari delapan kolom wewaran, tujuh kolom berisi pedoman aktivitas mingguan dan satu kolom mewakili satu hari. Gambar dalam kolom menampilkan unsur alam, manusia, hewan, dan tumbuhan. Setiap kolom memuat dua hingga tiga ilustrasi dengan makna spesifik. Sistem ini menggabungkan siklus hari dalam budaya Jawa, yaitu pasaran, paringkelan, padinan, padewan, padangon, sěngkan-turunan, dan pancasuda. Beberapa ilustrasi mewakili kombinasi siklus sehingga seluruh satu minggu tercakup lengkap.
Filosofi naskah menekankan hubungan masyarakat dengan waktu, musim, dan aktivitas pertanian. Setiap wuku memberikan pedoman kapan waktu tepat menanam padi, melakukan ritual adat, atau melaksanakan kegiatan sosial. Ilustrasi tokoh wayang berfungsi sebagai media visual untuk menyampaikan norma, karakter, dan ajaran moral sehingga pengetahuan yang tertulis dapat dipahami secara efektif.
Nilai budaya manuskrip ini tinggi. Sěrat Pawukon bukan sekadar teks penanggalan tetapi juga arsip sastra Jawa yang merekam cerita leluhur dan praktik agraris. Ilustrasi wayang kulit menampilkan keterampilan seni rupa tradisional, mulai dari detail kostum hingga simbol alam. Kombinasi teks dan gambar menciptakan media pembelajaran yang efektif dan menjadi sumber informasi tentang cara masyarakat Jawa menyampaikan pengetahuan dan tradisi.
Hingga saat ini, Sěrat Pawukon tetap relevan. Sistem penanggalan dan pedoman aktivitas yang dikandungnya dapat dijadikan referensi untuk memahami praktik pertanian tradisional dan ritual adat. Manuskrip ini juga menjadi sumber studi sejarah, seni rupa, dan literasi visual yang membantu melestarikan warisan budaya.
Sěrat Pawukon menampilkan sistem pengetahuan yang menggabungkan praktik pertanian, penanggalan, dan ilustrasi wayang kulit, menjadi cermin kehidupan masyarakat Jawa abad ke-19. Manuskrip ini membuktikan bahwa tradisi, seni, dan praktik sosial dapat terekam secara utuh dalam satu dokumen, memberikan pemahaman langsung tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Jawa. Handoko Suman