INFO
Vritta Nara → Portal Media & Nuswantara Vritta → Majalah Digital : Budaya - Arsitektur dan Pariwisata Indonesia
Diskon 30% untuk pembelian tiket di candi.tiket
ARSITEKTUR

SRIWIJAYA MENATA SRIKSETRA - Sebagai Ruang Kehidupan Bagi Semua Makhluk

Taman Sriksetra Menjadi Bukti Perencanaan Kawasan Lanskap Ekologis Nusantara pada Abad Ketujuh Masehi.
SRIWIJAYA MENATA SRIKSETRA -  Sebagai Ruang Kehidupan Bagi Semua Makhluk
Prasasti TALANG TUWO | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

Palembang, Sumatera Selatan — Kompleks lanskap bersejarah Taman Sriksetra yang diabadikan dalam batu Prasasti Talang Tuwo berangka tahun 606 Saka atau 684 Masehi berdiri sebagai kawasan taman kota ekologis pertama dalam sejarah peradaban ruang Nusantara. Tata ruang lanskap yang digagas oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa ini membentang di wilayah perbukitan barat Kota Palembang dengan memanfaatkan topografi alami berupa kontur lahan bergelombang, lanskap daerah aliran sungai, serta vegetasi tanaman produktif seperti kelapa, pinang, sagu, Aren, dan bambu. Konstruksi lingkungan ini dirancang menggunakan tata zona berbasis pembagian fungsi fisik yang memadukan vegetasi kanopi peneduh, zona resapan air, saluran irigasi buatan, serta kolam penampungan air alami (kemang/lebak) untuk menjaga stabilitas hidrologi kawasan. Struktur spasial Taman Sriksetra tidak dibangun sebagai area permukiman tertutup, melainkan sebagai sebuah taman publik ekologis seluas kawasan mikro yang memiliki batas-batas alam fisik terukur untuk mendukung keberlanjutan pasokan pangan, ketersediaan air bersih, dan perlindungan ekosistem mikro bagi seluruh makhluk hidup di pusat Kedatuan Sriwijaya.

Perkembangan bentuk dan fungsi kawasan Sriksetra memperlihatkan pergeseran penting dalam evolusi perencanaan tata kota dan lanskap Nusantara dari abad ke-7 hingga masa kini. Kawasan yang awalnya difungsikan sebagai amanat ekologis spiritual dan fasilitas publik kerajaan ini bertransformasi seiring perkembangan tata ruang Kota Palembang modern menjadi kawasan permukiman, artefak arkeologis, dan zona cagar budaya. Pewarisan teknik tata air tradisional Sriwijaya yang memanfaatkan sistem kanalisasi sungai dan kolam retensi alami terus diadaptasi dalam pola perencanaan kawasan hijau serta drainase perkotaan di sepanjang DAS Musi. Perubahan fungsi fisik dari batas taman ekologis masa klasik menjadi kawasan pinggiran kota yang dinamis mencerminkan adaptasi ruang yang terus diuji oleh arus urbanisasi, namun tetap mempertahankan jejak pola vegetasi dan kontur air alaminya. Karakteristik spasial Sriksetra menjadi referensi historis utama bagi para perancang kota dalam menentukan proporsi ideal antara kawasan terbangun dan ruang terbuka hijau yang tangguh menghadapi tantangan iklim tropis.

Masyarakat lokal dan para ilmuwan arsitektur lanskap bertindak sebagai pemegang peran utama yang menghidupkan kembali filosofi perencanaan ruang Sriksetra di tengah tantangan lingkungan modern. Para petani, pengrajin lokal, dan komunitas pelestari lingkungan di Palembang secara konsisten merawat keberlanjutan jenis-jenis tanaman lokal serta saluran air kuno yang menjadi bagian dari warisan ekologis prasasti tersebut. Warga kota bersama para akademisi dan perencana tata ruang mengintegrasikan nilai-nilai konservasi lahan basah ke dalam kebijakan pembangunan taman kota berbasis komunitas, memastikan bahwa prinsip tata ruang yang ramah lingkungan tidak terhenti sebagai catatan sejarah tertulis. Pelibatan masyarakat dalam menjaga ritme fisik vegetasi dan kebersihan sirkulasi air di sekitar kawasan penemuan prasasti memperkuat kesadaran kolektif bahwa ruang kota harus dirancang secara inklusif demi kesejahteraan publik. Melalui pemeliharaan fisik lanskap harian tersebut, prinsip tata ruang tropis yang berpusat pada keseimbangan ekosistem terus dihidupkan sebagai bagian dari identitas lingkungan Nusantara.

Taman Sriksetra memberikan pelajaran berharga bahwa konsep perencanaan kawasan berbasis keberlanjutan ekologis dan keadilan ruang bagi seluruh makhluk telah diterapkan secara terstruktur sejak masa Kedatuan Sriwijaya. Integrasi antara ketepatan fungsi tata air, pemilihan vegetasi lokal berdaya guna tinggi, dan penghormatan terhadap alam menunjukkan keunggulan peradaban Nusantara dalam mengelola ruang hidup kota tropis yang adaptif. Pemahaman mendalam atas struktur lanskap bersejarah ini memberikan arah strategis bagi penyusunan tata ruang kota masa depan agar tidak sekadar berfokus pada pembangunan fisik beton, melainkan mengutamakan keselarasan antara fungsi lingkungan, sosial, dan keberlanjutan budaya. Nilai abadi dari perancangan kawasan Sriksetra menegaskan pentingnya menempatkan ruang terbuka hijau dan keselarasan ekologis sebagai fondasi utama dalam merancang peradaban kota Nusantara yang berdaya tahan dan berkeadilan. Handoko Suman

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
ARSITEKTUR

SRIWIJAYA MENATA SRIKSETRA - Sebagai Ruang Kehidupan Bagi Semua Makhluk

Taman Sriksetra Menjadi Bukti Perencanaan Kawasan Lanskap Ekologis Nusantara pada Abad Ketujuh Masehi.

Super Admin
15 Okt 2026 • 57x dibaca
SRIWIJAYA MENATA SRIKSETRA -  Sebagai Ruang Kehidupan Bagi Semua Makhluk
Prasasti TALANG TUWO | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

Palembang, Sumatera Selatan — Kompleks lanskap bersejarah Taman Sriksetra yang diabadikan dalam batu Prasasti Talang Tuwo berangka tahun 606 Saka atau 684 Masehi berdiri sebagai kawasan taman kota ekologis pertama dalam sejarah peradaban ruang Nusantara. Tata ruang lanskap yang digagas oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa ini membentang di wilayah perbukitan barat Kota Palembang dengan memanfaatkan topografi alami berupa kontur lahan bergelombang, lanskap daerah aliran sungai, serta vegetasi tanaman produktif seperti kelapa, pinang, sagu, Aren, dan bambu. Konstruksi lingkungan ini dirancang menggunakan tata zona berbasis pembagian fungsi fisik yang memadukan vegetasi kanopi peneduh, zona resapan air, saluran irigasi buatan, serta kolam penampungan air alami (kemang/lebak) untuk menjaga stabilitas hidrologi kawasan. Struktur spasial Taman Sriksetra tidak dibangun sebagai area permukiman tertutup, melainkan sebagai sebuah taman publik ekologis seluas kawasan mikro yang memiliki batas-batas alam fisik terukur untuk mendukung keberlanjutan pasokan pangan, ketersediaan air bersih, dan perlindungan ekosistem mikro bagi seluruh makhluk hidup di pusat Kedatuan Sriwijaya.

Perkembangan bentuk dan fungsi kawasan Sriksetra memperlihatkan pergeseran penting dalam evolusi perencanaan tata kota dan lanskap Nusantara dari abad ke-7 hingga masa kini. Kawasan yang awalnya difungsikan sebagai amanat ekologis spiritual dan fasilitas publik kerajaan ini bertransformasi seiring perkembangan tata ruang Kota Palembang modern menjadi kawasan permukiman, artefak arkeologis, dan zona cagar budaya. Pewarisan teknik tata air tradisional Sriwijaya yang memanfaatkan sistem kanalisasi sungai dan kolam retensi alami terus diadaptasi dalam pola perencanaan kawasan hijau serta drainase perkotaan di sepanjang DAS Musi. Perubahan fungsi fisik dari batas taman ekologis masa klasik menjadi kawasan pinggiran kota yang dinamis mencerminkan adaptasi ruang yang terus diuji oleh arus urbanisasi, namun tetap mempertahankan jejak pola vegetasi dan kontur air alaminya. Karakteristik spasial Sriksetra menjadi referensi historis utama bagi para perancang kota dalam menentukan proporsi ideal antara kawasan terbangun dan ruang terbuka hijau yang tangguh menghadapi tantangan iklim tropis.

Masyarakat lokal dan para ilmuwan arsitektur lanskap bertindak sebagai pemegang peran utama yang menghidupkan kembali filosofi perencanaan ruang Sriksetra di tengah tantangan lingkungan modern. Para petani, pengrajin lokal, dan komunitas pelestari lingkungan di Palembang secara konsisten merawat keberlanjutan jenis-jenis tanaman lokal serta saluran air kuno yang menjadi bagian dari warisan ekologis prasasti tersebut. Warga kota bersama para akademisi dan perencana tata ruang mengintegrasikan nilai-nilai konservasi lahan basah ke dalam kebijakan pembangunan taman kota berbasis komunitas, memastikan bahwa prinsip tata ruang yang ramah lingkungan tidak terhenti sebagai catatan sejarah tertulis. Pelibatan masyarakat dalam menjaga ritme fisik vegetasi dan kebersihan sirkulasi air di sekitar kawasan penemuan prasasti memperkuat kesadaran kolektif bahwa ruang kota harus dirancang secara inklusif demi kesejahteraan publik. Melalui pemeliharaan fisik lanskap harian tersebut, prinsip tata ruang tropis yang berpusat pada keseimbangan ekosistem terus dihidupkan sebagai bagian dari identitas lingkungan Nusantara.

Taman Sriksetra memberikan pelajaran berharga bahwa konsep perencanaan kawasan berbasis keberlanjutan ekologis dan keadilan ruang bagi seluruh makhluk telah diterapkan secara terstruktur sejak masa Kedatuan Sriwijaya. Integrasi antara ketepatan fungsi tata air, pemilihan vegetasi lokal berdaya guna tinggi, dan penghormatan terhadap alam menunjukkan keunggulan peradaban Nusantara dalam mengelola ruang hidup kota tropis yang adaptif. Pemahaman mendalam atas struktur lanskap bersejarah ini memberikan arah strategis bagi penyusunan tata ruang kota masa depan agar tidak sekadar berfokus pada pembangunan fisik beton, melainkan mengutamakan keselarasan antara fungsi lingkungan, sosial, dan keberlanjutan budaya. Nilai abadi dari perancangan kawasan Sriksetra menegaskan pentingnya menempatkan ruang terbuka hijau dan keselarasan ekologis sebagai fondasi utama dalam merancang peradaban kota Nusantara yang berdaya tahan dan berkeadilan. Handoko Suman

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri