TROWULAN, MOJOKERTO, JAWA TIMUR — Wringin Lawang dan Bajang Ratu bukan sekadar bangunan peninggalan, melainkan bagian hidup dari tata budaya masyarakat yang membangunnya. Wringin Lawang yang berbentuk candi bentar terbuka lebar mengajarkan keterbukaan - menyambut siapa saja yang datang dengan niat tulus, tanpa menutup pintu atau memisahkan diri dari dunia luar. Bajang Ratu yang berbentuk paduraksa tertutup dan megah menyampaikan penghormatan serta menandakan bahwa ada ruang yang patut dihargai, dijaga, dan dimasuki dengan sikap yang lebih khidmat. Kedua bentuk ini lahir bukan dari kebutuhan fisik semata, melainkan dari nilai yang dijunjung masyarakat masa Majapahit tentang cara menyambut tamu, membagi ruang, dan menghormati tempat yang dihuni.
Nilai-nilai tersebut tidak berhenti saat kerajaan berakhir, melainkan diwariskan dan dijalankan terus oleh masyarakat turun-temurun. Pola menyambut yang terbuka namun tetap teguh, serta menghormati yang sakral tanpa menjadi tertutup, terlihat terus di kehidupan masyarakat Jawa maupun Bali hingga kini. Gerbang yang dibangun di desa, di kawasan keraton, maupun di tempat ibadah tetap mengikuti semangat yang sama juga membedakan penghormatan sesuai sifat ruang, tanpa kehilangan keterbukaan terhadap sesama. Budaya tidak tersimpan hanya di dalam cerita atau upacara, melainkan dijalankan setiap kali seseorang melangkah melewati pintu yang disiapkan untuk itu.
Masyarakat adalah pewaris sekaligus penjaga makna gerbang tersebut. Bukan batu dan bata yang menyimpan nilai budaya, melainkan cara masyarakat memperlakukan gerbang dan pesan yang dibawanya. Warga yang merawat, melewati, dan mengajarkan makna kedua gerbang ini kepada generasi berikutnya sebenarnya sedang meneruskan tata hidup yang dijunjung leluhur bahwa menyambut orang lain adalah kehormatan, dan menghormati ruang adalah cermin budi pekerti. Nilai ini tidak bergantung pada bentuk bangunan, melainkan pada kesadaran untuk tetap menghormati sesama di mana pun kita berada.
Dengan demikian, gerbang adalah wajah pertama tatanan kawasan dan budaya suatu tempat. Wringin Lawang dan Bajang Ratu mengajarkan satu hal yang tetap relevan hingga kini dimana budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang dipamerkan, melainkan sikap yang dijalankan dan juga terbuka bagi siapa yang datang, hormat terhadap apa yang dijaga, dan menyambut sesama dengan martabat yang sama. Inilah warisan sejati yang terus mengalir dari masa Majapahit hingga peradaban Nusantara masa kini. Handoko Suman